Toponimi Pulau-Pulau Kecil di Kalbar

1abTopomini (Penamaan Rupabumi), adalah cara menentukan serta menulis nama unsur geografis. Tanpa topomini, sebuah peta hanyalah kertas bergambar tanpa makna. Bagi para KidsZamanNow yg akrab dgn GoogleMaps atau Waze tentu butuh nama lokasi dan tempat yg jelas dan pasti. Selain fungsi lokasi berbasis aplikasi GPS (Global Positioning System), juga perlu penamaan secara baku. Itulah manfaat toponimi agar peta terbaca mudah dan terarah, juga sbg dokumen spasial hasil metode resmi dan proses tertentu. Penamaan Rupabumi menjadi acuan dalam pendataan topografi, melalui ilmu terapan terpadu yg melibatkan disiplin geografi, geodesi, antropologi, linguistik,  sejarah dan hukum terkait sumber daya geografis. Meliputi penamaan unsur topografi buatan (nama gedung, jalan, kota, dst), maupun unsur alamiah (sungai, gunung, pulau, dst). Sehingga Pembakuan Toponimi berperan untuk: (1) Tertib administrasi wilayah; (2) Acuan dan referensi serta nara sumber bagi media massa; (3) Data rencana penataan ruang; (4) Tindakan mitigasi dan keamanan. 

Toponimi merupakan cabang dari onomastica, ilmu tentang nama dari bahasa Yunani (topos =tempat, onoma/ nym = nama). Selanjutnya hasil Toponimi menjadi kunci dalam perencanaan segala kegiatan berbasis peta atau spasial. Tiap penamaan unsur geografi umumnya terdiri atas dua bagian yaitu nama generik dan nama spesifik. Nama generik berupa sebutan yg mewakili bentuk dari unsur geografis tersebut, misalnya sungai, kota dan unsur lain. Sedangkan nama spesifik mewakili nama diri (proper name)  terhadap nama generik, misalnya Kelam untuk Bukit Kelam di Sintang. Juga unit pembeda antar unsur geografis, misalnya Temajok untuk nama pulau di Mempawah, berbeda dgn nama desa Temajok di Sambas. Seluruh kajian toponimi akan menghasilkan daftar penamaan geografi atau gasetir, unik dan tunggal. Sehingga tidak ada sebutan ganda, serta khas mewakili sejarah atau asal usulnya. Salah satu elemen pada daftar gasetir berupa penamaan pulau, sebagai sumber daya wilayah untuk pembangunan ekonomi, ekologi, sosial budaya, serta keamanan, berupa batas kelola administratif dan wilayah kedaulatan.1baMerujuk standard internasional juga pedoman survei toponim kepulauan di Indonesia, ada 4 (empat) kaidah kegiatan penamaan menurut United Nations Conference on the Standardization of Geographical Names (UNCSGN) No.4 Tahun 1967. Pertama, nama pulau hanya diberikan oleh penduduk setempat, minimal 3 orang yg memahami sejarah pulau tsb. Kedua, data posisi geografis, luasan, dan wilayah administrasi pulau. Ketiga, ucapan lokal (fonetik) nama pulau yg direkam (audio recording) berikut penulisan nama hasil kesepakatan dgn masyarakat setempat. Keempat, hasil survei secara keseluruhan disampaikan kepada pemerintah dan masyarakat sbg persetujuan mengikat, kemudian dipublikasikan. Penamaan Pulau-Pulau Kecil dilakukan oleh pemerintah daerah dgn bimbingan teknis dari Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi berdasarkan Peraturan Presiden No. 112 Tahun 2006, meliputi Kemendagri, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Bakosurtanal, Dishidros TNI-AL, dan Pusat Geologi Kelautan. Serta semua kaidah meliputi kegiatan awal berupa survei lapangan, hingga melibatkan penduduk guna mengadopsi kearifan lokal. Maka Toponimi juga berperan dalam pelestarian sejarah, misalnya apa makna dibalik penamaan “Pontianak”.  1aaMelalui Rapat Pembinaan dan Pembakuan Nama Pulau di Kalimantan Barat tgl 28 Juni 2008 di Pontianak, telah ditanda tangani Berita Acara Verifikasi Hasil Penamaan Pulau. Acara dipimpin oleh Asisten Pemerintahan dan Hukum Setda Prov. Kalbar serta dihadiri unsur Pemprov dan Kabupaten/ Kota, para Camat dan Kepala Desa yg memiliki pulau di wilayahnya, serta Tim Nasional Pembakuan Nama Rupabumi. Berdasarkan berita acara dimaksud sudah dibakukan sejumlah 217 nama pulau-pulau kecil, meliputi dua wilayah. Yakni pada tujuh kabupaten/ kota pesisir: Sambas (6), Bengkayang (12), Singkawang (1), Mempawah (9), Kubu Raya (39), Kayong Utara (97), dan Ketapang (41), berjumlah 205 pulau. Serta pulau kecil pedalaman (di sungai, danau): Kota Pontianak (1), dan Kab. Sanggau (6), berjumlah 7 pulau. Adapun 5 pulau kecil lainnya masih perlu kesepakatan pengelolaan karena berbatasan wilayah dgn provinsi Kalimantan Tengah (3 pulau) dan Kepulauan Riau (2 pulau). Fakta status kelima pulau tsb sekaligus menegaskan bahwa peran Toponimi TIDAK menyangkut aspek administratif kewilayahan. [*Tulisan telah dipublikasikan di harian AP Post, dan situs Pemprov Kalbar, oleh dionisius endy]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s