Insinyur Arsitek Dayak

INSINYUR ARSITEK Dayak memiliki tiga kata dgn tiga pengertian yg saling berbeda, namun ternyata dapat disatukan oleh satu oknum sbg tujuan tulisan. Pertama, Insinyur sbg gelar akademik sebelum perubahan tahun 1993 menjadi Sarjana Teknik. Lalu Arsitek secara pendidikan, bagian dari Jurusan Teknik berupa ilmu terapan dan seni rekayasa tentang desain interior, bangunan, juga kawasan. Konon secara kurikulum, jumlah kredit siswa Arsitektur sering lebih banyak ketimbang beban siswa Sipil. Kemudian bagi sesama siswa dan lulusan Arsitektur, nama almamater cukup menandai reputasi. Meski kampus Parahyangan gak bermakna apapun bagi non arsitek, asing bagi yg belum pernah ke Bandung. Mungkin Parahyangan hanya dianggap tempat kursus gambar rumah belaka.. LOL

ADAPUN PROFESI Arsitek, berbeda dgn profesi Insinyur. Antara lain lewat beda rujukan kelembagaan, yakni Union International Architect dgn International Engineering Alliance. Seorang Arsitek dapat disebut professional, setelah resmi terdaftar dalam organisasi kerja Ikatan Arsitektur Indonesia dan menghasilkan kontribusi. Di jamanku sbg anggota IAI Angkatan Pertama, harus dibuktikan telah merancang lebih dari tiga bangunan publik dan dibayar individual. Beberapa karyaku di Pontianak eksis sbg arsitek di Viva Contraktor, serta proyek pribadi seperti menggarap ruang kerja dan taman di kediaman mantan Rektor Untan Mahmud Akil, interior lobi dan ornamen Bank Kalbar, menara Masjid Raya Al Taqwa Pemangkat, Kantor Penghubung Kalbar di Jakarta, Kantor PTP XIII Pontianak, serta beberapa rumah mewah di BLKI. Sempat jadi pengajar angkatan awal Prodi Arsitektur Politeknik Pontianak tahun 1999. Maka saat ketemu orang yg ngaku arsitek, tanya saja kartu atau nomor IAI nya karena telah mencakup kelengkapan standard profesi dan administratif secara nasional maupun dunia.
TERAKHIR TENTANG Dayak, non arsitektur yg subjektif merujuk kepada suku asli Kalimantan. Kakek saya Jacobus Saman sbg Kepala Sekolah Pertukangan Nyarumkop era 50an. Beliau kirim anak sulungnya ke IPB Bogor meraih gelar Insinyur tahun 1966, sekaligus kelahiranku. Gen edukasi memang faktor keturunan selain DNA Dayak rupanya, meski bukan lahir di tanah Borneo. Faktor yg memudahkan saat interaksi dan kolaborasi dgn rekanan lain. Seperti peran beberapa tokoh yg memperkaya arsitekku di Pontianak, antara lain Arsitek Nyoman Sudana IAI. Saat itu sbg Kepala PU Kalbar yg sama2 mendesain ulang gambar kerja Gedung DPRD Kalbar. Pak Nyoman pula yg lalu membawa para pemahat dari Bali untuk ngukir gambarku yg gak mampu dikerjakan oleh seniman lokal. Serta kain tenun tangan Kapuas Hulu untuk interior Bank Kalbar yg harus kubeli di Taman Mini Jakarta lewat bantuan seniman Uke Tugimin demi produk seni daerah.
Kemudian bang Max Yusuf Alkadrie dgn filosofi tiga kaki tungku. “Kalbar besar karena tiga suku utama, coba kau terapkan dalam Gedung DPRDmu”, pesannya. Maka saya majukan dua bangunan sayap jadi sejajar sambil memperluas kapasitas ruang Rapat Paripurna. Terakhir, dua seniman yg meronai ornamen eklektik utk Gedung DPRD dan interior Bank Kalbar. Yakni sesepuh Yakobus Layang sebelum jadi Bupati Kapuas Hulu, serta wartawan Halim AR sang pencipta maskot Enggang-Tengkawang. Arsitek yg baik dapat berkomunikasi dan bekerja sama, termasuk kecakapan publikasi dan sosialisasi. Ternyata hingga kini saya masih sering disapa oleh mantan siswa maupun rekan kerja lama, merupakan kejutan dan pengakuan informal yg manis. (nDy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s