Non Fungible Token Dan Kenyataan

GADIS 15 tahunan itu bangun tidur seperti lazimnya. Setel lagu, nari sesukanya depan tik-tok, trus mandi. Tanpa ia sadari dalam sebulan, videonya ditiru jutaan remaja. Omset toko piyama meningkat, radio memutar lagunya, klub senam meniru gerakannya. Ratusan juta followers Charli D’Amelio menanti video berikutnya, sponsor dan vendors antri. Kini tarif postingnya senilai US $100 ribu alias Rp1,4 miliar per konten durasi 30 detik. Rezeki virtual dgn duit nyata. Begitupun remaja Semarang yg selalu di depan komputer, mirip anakku. Ia iseng selfie saat pasrah mau ujian SMU lima tahunan lalu. Kini di usia 22 terkumpul ratusan foto harian dgn pose sama, model KTP tanpa senyum. Diberi judul Ghozali Everyday, ada yg diambil bangun tidur, habis ngelamar kerja, pulang vaksin, mau tidur lagi. Di aplod ke platform OpenSea berikut NFT sbg aset kripto. Satu NFT Ghozali dihargai Rp 45 juta, dari harga awal Rp 46 ribu. Kini Ghozali meraih total Rp 1,5 miliar duit beneran, hasil muka bengong saban hari di dunia maya.

NON FUNGIBLE TOKEN atau NFT sederhananya bagian dari aset digital berbasis blockchain utk kebutuhan finansial virtual. Bitcoin sbg pelopor blockchain, juga mata uang kripto paling populer. Lalu remaja Kanada berusia 19 tahun menyempurnakan blockchain dan bikin mata uang baru berupa token, yakni Ethereum. NFT bagian dari Ethereum, gak bisa dipertukarkan krn mengandung hak cipta digital. Topik ini kubahas saat ketemu presiden Facebook Indonesia. “Kasihan Daniel Sahuleka atau Fariz RM gak punya hak serta royalty atas karyanya di dunia maya”. Contoh dua remaja di atas mewakili trend berbeda. Charli sbg avatar dunia Meta dgn transaksi jasa atau fungible serupa Bitcoin. Sedangkan Ghozali menjual karya cipta berupa NFT lewat aset Ether. Beginilah dunia anak kita lima tahun mendatang. Mereka gak peduli mo jadi dokter, PNS, sarjana, cita2 khas anak 80an. Saya bersyukur bisa gunakan WA sebelum jadi Metaverse, untuk promosi tulisan dan video tanpa NFT. Sembari ngobrol virtual dgn pak Murad nelayan Satai di akhir pekan, bareng chat pak Muryadi di Tebas sbg sesama mantan karyawan Giranti milik suami Ana Laviana. Aku berfikir maka aku Ada. (nDy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s