Dayak, Nuklir Dan Anjing

Sejak kecil saya memelihara anjing di rumah, jenis kampung sbg teman main. Saat SD di Ketapang era 70an, mereka sering mengusir ular nyasar. Yang bikin heran dan sedih, kehilangan akibat diculik utk dikonsumsi. Agaknya kebiasaan memakan satwa liar sbg sumber protein, jamak terjadi di berbagai tempat. Termasuk hewan yg telah di domestikasi seperti anjing atau kucing. Tanpa mesti paham Kinologi, saya melihat mereka sbg Canis Lupus Familiaris ketimbang lauk ekstrim. Alias binatang favorit serta bagian anggota rumah, khususnya pasca breeding. Sehingga terjadi peluang bisnis seperti peternakan anjing lokal Kintamani dari wilayah pegunungan di Bali yg memiliki ciri khas Spitz dan Basenji.

Keluarga Spitz yg populer seperti Siberian Husky, berbulu tebal khas iklim dingin. Aktif dan loyal namun gak cocok jaga rumah. Seperti jenis Pug yg cuma diam melotot saat maling masuk, begitupun Husky. Sedangkan Basenji nama ras pemburu asal Afrika, sukses dilatih berburu bagi para cowboy di Amerika. Maka anjing Kintamani bisa mahal karena fisik seperti Husky tapi agresif sbg penjaga khas Basenji. Bagaimana nasib anjing di Borneo khususnya dalam tradisi Dayak? Saya terkejut saat menyimak tentang anjing di beberapa WAG Dayak, lalu pilih diam akibat gak paham. Seolah2 saya jadi Alien dibuat mereka. Seperti halnya wacana PLTN di Kalbar, cenderung dimulai dgn kisah Fukushima dan Chernobyl. Rasanya mustahil membahas Skala Kardashev dgn para pembesar WAG, mereka seolah legitime telah mewakili para silence minority. Mending ngajak si husky jalan2 sore yuk. (nDy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s