Menjadi GARAM Dunia

PROFESOR Martin Tsamenyi terkejut saat saya bilang akan kembali ke Pontianak setelah lulus kuliah. “Anda bakal kesepian, tidak ada yg paham ucapanmu. Posisimu mestinya di kementerian, atau lanjut PhD. Kontak saya nanti jika berubah pikiran”, katanya. Bagaimanapun saya harus balik ke kantor asal, sesuai kontrak beasiswa. Memang benar, sempat tersiksa meski promosi sbg Kabid Kelautan awal 2011. Sempat berkelana ke Danau Sentarum untuk meraih gelar Pokmaswas Terbaik se Indonesia, membawa pak Sulaiman sang ketua menerima penghargaan dari Presiden SBY di Dumai, Desember 2011. Lalu kenalan dgn jurnalis Bearing dan penyelam Irwan Dirgantara buat diving di Lemukutan. Serta Dr. Johnny MTS butuh ijazah saya untuk buka jurusan teknik kelautan di Untan. Kesepian menjadi berkah. Seperti setitik garam hasil laut telah menemukan wadah, peluang dan sahabat yg tepat. Garam mengandung unsur kimia beracun, natrium dan klorida. Akan berubah jadi bermanfaat setelah larut melebur sbg senyawa baru.

KETIKA Lydia Yesicha lulus sbg Sarjana Teknik Kelautan Untan angkatan pertama, satu2nya wisudawan kelautan 2018, saya dapat rasakan lagi sepi bahkan kesedihan dirinya. Menjadi tanggung jawabku sbg dosen tamu kelautan Untan maupun Kabid Kelautan Kalbar. Sanggup memulai, gagal memelihara. Garam hanya berguna setelah melebur sbg entitas baru. Sayapun harus lebur lewat jejaring kerja, larut dalam kemitraan. Fungsi garam selain pengolah rasa, juga pengawet, serta sifat hidrofilik utk bikin es krim, kemudian lenyap. Maka menjelang pensiun berikut sisa usia, aspek kelautan saya larutkan pula dalam arsitektur, pariwisata, pemerintahan desa, bisnis, dst. Agar tidak ada Lydia berikutnya yg kesepian, atau kedua anakku harus terpisah jarak akibat pekerjaan. Dunia mesti lebih ramah bagi mereka. Lihatlah ceria wisudawan dgn nilai tertinggi di Prodi Desain Kawasan Binaan, jurusan Arsitektur Polnep 2021. Hasil ujian panjang di luar kampus, mereka nyebrang laut ketemu Kades, presentasi survey Lemukutan  depan Wakil Bupati Bengkayang dan Kadis DKP. Terdapat 56 Desa Pesisir di dalam Kawasan Konservasi Laut Kalbar menanti kerja sama. Saling membutuhkan bagai setitik garam sbg penyedap semangkuk sop. Demikian doa bagi anak2ku agar menjadi bumbu masa depan secara jejaring dan berkelanjutan. (nDy)   

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s