Asmara Perdana – Harie Dea

BULE, NAMA panggilannya. Waktu SMA ia diajak Chrisye ngisi drums untuk album Badai Pasti Berlalu tahun 1977. Lalu si Bule lanjut ke ITB jurusan Seni Rupa, ngekos di rumah sepupunya, Triawan Munaf yg juga pianis Giant Step. Mereka nongkrong di WR Supratman 57, markas musik Harry Roesli. Si Bule tertarik nge-bass setelah diajarin Funk bergaya Sly & The Family Stones oleh Harry sebelum kuliah musik di Belanda. Kemudian Hariyadi Usman vokalis band Balagadona ngajak si Bule bikin album dgn biaya pribadi. Hariyadi alias Harie Dea emang tajir, anak artis 60an Fetty Fatimah yg beken dgn lagu Pepaya Mangga Pisang Jambu. Idealis harus realistis, butuh fulus.

ASMARA PERDANA jadi andalan si Bule, semua musik dimainkan sendiri terutama pamer bass hasil didikan Harry Roesli. Dari 9 lagu di album Santun Petaka, cuma dua lagu dibantu musisi Herman Gelly dan Hari Soebarja adiknya Benny Giant Step. Proses finishing rekaman di studio Gelora Seni Jakarta, 1979.  Meski vokal Harie Dea biasa saja namun aspek musikal amat berkelas. Proyek Santun Petaka dianggap pembaharu selera album solo. Kelak malah ditiru si Bule saat bikin album pribadi, Sakura. Lagu Asmara Perdana juga dibawakan ulang si Bule untuk album Peristiwa 1977-1981. Sementara Harie Dea beralih ke bisnis dan sukses di politik, mengiringi jejak Triawan yg dilantik Presiden Jokowi dalam kabinet kerja. Mereka mewariskan proyek Santun Petaka sbg artefak langka inceran para kolektor. PosMusicA wajib melestarikan lewat editing visual berikut kualitas audio digital. Oya jika penasaran siapa si Bule, dia adalah om-nya Sherina Munaf. (nDy)

Advertisement

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s