Mochtar Kusumaatmadja – Diplomat Kelautan

BELANDA telah mengakui kedaulatan Indonesia pasca Konferensi Meja Bundar Tahun 1949. Namun kapal asing masih seenaknya masuk ke Laut Jawa hingga Papua. Mereka mengacu pasal 1 ayat 1 menurut Ordonansi Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim, atau Undang Undang Laut versi Belanda Tahun 1939, yang menyatakan bahwa perairan Indonesia hanya berjarak 3 Mil Laut dari garis pantai. Sehingga terdapat celah di antara kepulauan dan menjadi wilayah bebas atau Laut Internasional. Lalu seorang anak muda bernama Mochtar turut mendampingi delegasi Indonesia di konferensi kelautan dunia di Jenewa, untuk pertama kali menyatakan klaim teritorial 12 Mil Laut di PBB namun ditolak. Mochtar turut mematangkan legalitas 12 Mil Laut sebagai kesatuan Wawasan Nusantara, bahwa perairan yang terdapat di antara kepulauan harus menjadi elemen penghubung dan bukan faktor pemisah. Kemudian Perdana Menteri Djuanda mengumumkan klaim Perairan Nusantara berupa Deklarasi Djuanda pada 13 Desember 1957. Perjuangan masih panjang, hingga Mochtar mendapat pengakuan pada Konvensi Hukum Laut III di Jamaica, 10 Desember 1982. Konsep Negara Kepulauan atau Archipelagic State masuk secara resmi ke dalam Hukum Laut Internasional atau UNCLOS pada Paragraf keempat, setelah perjuangan selama seperempat abad. Maka kedaulatan laut bertambah dua kali lipat sebagai keutuhan NKRI, hasil diplomasi dan tanpa perang. Kisah yang kudapat dari Profesor Martin Tsamenyi saat kuliah Master of Maritim di University of Wollongong.
Aku pernah dua kali bertemu fisik Mochtar Kusumaatmadja tanpa sengaja. Pertama di kampus Unpar saat aku kuliah di Arsitektur. Ketika Mochtar sebagai guru besar di Padjadjaran tahun 1962 pernah dipecat oleh Presiden Soekarno, hanya Parahyangan yang berani menawarkan pekerjaan hingga beliau dapat beasiswa ke Amerika. Kesan ini tidak ditutupi dalam obrolan singkat, menjadi alasan beliau tetap mengajar di Parahyangan disela kesibukan menjabat Menteri. Pertemuan kedua di pasar loak Cikapundung, beliau asik memilih buku Catur dan tersenyum melihatku. Kali ini ceritanya pernah jadi penyiar RRI, sambil berpesan : komunikasi adalah kunci kehidupan. Pertemuan ketiga diwakilkan oleh buku langka Bunga Rampai Hukum Laut karya beliau, kudapat di Perpustakaan Adelaide saat liburan. Cukup rumit untuk memperoleh aset negara yang kudapat di luar negeri, perlu surat keterangan dari Prof. Martin Tsamenyi sebagai dosen dan perwakilanku. Lewat pengalaman dan aspek romantis begini, agaknya Mochtar Kusumaatmadja telah jadi idolaku. Selamat jalan Profesor, DIPLOMAT KELAUTAN. (nDy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s