In This Life – Tribute To Terri Schiavo

LOGIKA DAN Moral adalah anugerah satu paket. Cerdas berikut matang emosional selalu sejalan, menjadi bijak sbg hakekat manusia. Jika terjadi friksi antara pintar versus spiritual, lebih akibat nalar dari pihak lain yg berbeda. Atau bahan bisnis seperti kursus matematika dibalut kepercayaan, anehnya laris. Makanya nenek jualan koran edisi kemarin di lampu merah bisa laris. Dalam konteks marketing, pembeli bukan ingin baca koran basi. Tapi setelah bayar, seolah barter pahala berisi kelegaan, bahagia, superior, merasa berguna. Bisnis Free Guilty memang halal untuk merayu psikologi masa. Lewat uang receh untuk barter emosi bersyukur sambil melepas rasa bersalah. Jangan dibahas apakah si nenek pulang dijemput supirnya nanti. Tema Free Gulity juga mengisi lagu In This Life yg popular saat aku jadi penyiar radio La Paloma era 1994an sebelum jadi Manusa FM.

COLLIN RAYE berkisah tentang cinta dalam tiga makna, secara Eros, Philia, dan Agape. Cinta menjadi katalisator bagi logika dan moral, melebur Free Guilty. Lewat kasus sahabatnya, Terri Schiavo yg mengalami koma selama 15 tahun. Secara medis disebut Persistent Vegetative State, dianggap masih bernyawa meski hidup mirip tanaman. Kasus besar melibatkan Presiden dan Vatikan, serta legalitas euthanasia. Sang suami setia telah bersaksi, Terri selalu mohon agar “direlakan”. Namun pihak orang tua dan negara menentang demi moral, hingga diakhiri lewat pengadilan. Dilema yg memberi pelajaran, bahwa cara “membayar” Free Gulty gak harus berupa uang. Tergantung kemampuan masing2. Mungkin caraku dalam kontribusi bagi kesejahteraan sambil menjaga alam, berupa legalitas kawasan konservasi berikut aspek kelola berbasis masyarakat. Tidak semua memahami, malah sering dibilang pelit karena gak pernah kasi bantuan tunai. In This Life makin berkesan setelah kunyanyikan bertiga lewat aplikasi Smule. Yakni Octavius putra budayawan XF Asali, teman di kelas sebelah IPA-B SMA Santo Paulus, bareng Fridz Andjioe dan Yashinta Nita. Aku sekelas dgn Herkulana Mekaryani mewakili IPA-A, dua kelas yg selalu berantem tapi kini menjadi Keluarga Besar. Gak perlu canggih menulis sejarah orang lain, mending muliakan temanmu sendiri. In this life, I was loved by You. (nDy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s