Bimbo – Oda Pada Van Gogh

Tiga bersaudara asal Bandung memulai kisahnya di TVRI awal 1967. Berbekal gitar akustik dan harmonisasi vokal untuk repertoar latin seperti Besame Mucho. Masih lugu sehingga belum punya nama saat tampil, maka produser acara Hamid Gruno spontan menyebut Trio Bimbo. Selanjutnya lekat dgn nuansa balada melantunkan lirik puitis Iwan Abdurahman. Di tahun 1969 mereka menyodorkan lagu Melati Dari Jayagiri ke Remaco, namun ditolak. Alasan Eugene Timothy sang pemilik, susah dijual dan tidak prospek. Mirip kisah Vincent van Gogh yg melukis ratusan karya, namun hanya terjual murah satu produk selama hidupnya. Bimbo tidak gila dan jatuh miskin seperti Van Gogh. Perekam Polydor Singapore berminat dgn cerita Maryono peniup saxophone Jazz asal Surabaya, terbitlah album perdana berisi 6 lagu Indonesia di negeri jiran.
Bimbo kian populer diiringi band Empat Nada pimpinan A Riyanto, sukses komersial tanpa merubah ciri khas. Konsisten seperti Van Gogh tanpa mesti sengsara. Bimbo termasuk dalam 9 Legenda Band Indonesia angkatan 60 – 70 versi PosMusicA, di atas peringkat Favourit’s Group juga God Bless. Pada Januari 1973 Bimbo diajak Taufik Ismail untuk kolaborasi musikalitas lima puisi di Taman Ismail Marzuki. Antara lain berjudul Oda Pada Van Gogh karya 1964. Sesuai judul, Van Gogh teladan sempurna agar manusia harus menderita dulu sebelum senang, meski bahagia itu datang setelah kematiannya. Merekapun tetap sulit menerima contoh nyata begini. “They would not listen, they’re not listening still .. Perhaps they never will”, bisik Don McLean kepada Vincent van Gogh setelah memotong kupingnya sendiri. (nDy)

One comment

  1. Konon katanya ucapan adalah doa. Maka muncul segala ucapan positif misalnya nama channel YouTube sekaligus site ini yang mengandung kata positif. Bahwa Van Gogh boleh dianggap teladan sempurna agar manusia harus menderita dulu sebelum senang, meski bahagia itu datang setelah kematiannya. Namun tidak setiap manusia musti seperti Van Gogh. Banyak manusia di luar sana yang tidak menderita dulu buat senang dan tidak musti mati dulu untuk bahagia. Pada dasarnya bahagia itu subjektif, sebagaimana manusia mencanangkan titik kebahagiannya dalam sebuah ekspektasi. Terima kasih untuk tulisan yang mencerahkan makna untuk senang, bahagia dan mati.

    Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s