Nicky Ukur – Cintaku Cintamu Cinta Kita

Salut dan bangga kepada Nicky Ukur, satu2nya musisi pop asal Dayak kaliber Nasional. Karirnya berawal sbg penyanyi tembang Sunda, seangkatan dgn seniman jalanan Doel Sumbang pada awal 80an. Pamor alumni STIE atau Perbanas di jalan Cihampelas Bandung ini semakin meroket setelah digarap oleh musisi kawakan Robertus Tony Suwandi pada album perdana bertajuk “Dara” di tahun 1984. Si gondrong kelahiran Tamiang Layang di Kalteng inipun menguasai tangga lagu pop radio se Indonesia serta menyebut dirinya sbg seniman suku Maanyan. Menarik untuk mencermati habitat suku asli Kalimantan yg ekslusif dgn hutan dan pedalaman, namun berbeda dgn ekspansi gen Maanyan. Selain eksistensi Nicky Ukur yg amat populer di Bandung lalu dikira berdarah Pasundan, konon leluhur Maanyan telah mempengaruhi rumpun Ot Danum hingga “Barito Family” termasuk moyang suku Merina di Madagaskar. Rolland Oliver dalam buku “Africa In The Iron Age” di tahun 1978 menulis tentang kedatangan pelaut Nusantara dgn ratusan perahu bercadik yg menetap di pulau kosong Madagaskar sekitar tahun 945 Masehi. Sastrawan Sanusi Pane juga turut menduga para pelaut Maanyan telah mengarungi Samudera Hindia lalu diabadikan sesuai relief yg terdapat di candi Borobudur, dalam bukunya “Sejarah Indonesia 1” edisi 1965 halaman 58 – 59.
Kemudian seorang peneliti asal Merina, Prof. TA Razanadriaka di tahun 1989 pernah bertemu secara khusus dgn para tetua Dayak Maanyan di Barito Timur. Ia merilis hasil test DNA milik gen leluhurnya yg memang identik dgn para perempuan asli Kalimantan Tenggara. Didukung kesamaan kosa kata dan tradisi suku Maanyan yg lekat bernuansa Hindu Kaharingan seperti halnya kalangan laut dari suku Bajau. Adapun warisan jiwa bahari Dayak Maanyan yg juga leluhur suku Banjar, masih terdapat pada perkampungan beting di tepian sungai Barito dan Tabalong sejak pertengahan abad ke-14. Kini komunitas Dayak Maanyan masih eksis di wilayah Kalteng dan Kalsel sambil melestarikan tradisi Kaharingan. Sedangkan Nicky Ukur sang pengelana kini lebih fokus pada kesenian tradisional dan menikmati pensiun ala milenial, sembari mundar mandir antar pulau dari Palangkaraya menuju Bandung dan sebaliknya. (nDy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s