Casiopea – Light Music Contest

Jika Casiopea dianggap turut mempengaruhi selera Indomusika era 80an, memang ada kaitan dgn pamor Yamaha Light Music Contest. Ajang kompetisi yg diusung oleh vendor alat musik ternama dan membentuk Yayasan Musik Indonesia di Jakarta awal 70an. Pada ajang World Popular Song Festival yg dimulai sejak 1971 di Tokyo hingga 1989, turut menghadirkan para vokalis Indonesia dan jadi pemenang. Sementara bagi musisi lebih antusias terhadap Light Music Contest yg telah eksis sejak 1967 hingga 1971, sempat vakum lalu hadir secara Internasional pada 1981 hingga 1986. Saat inilah bermunculan bakat muda seperti Squirrel Band asal Surabaya dgn Dewa Budjana sbg gitaris terbaik 1984. Berlanjut Krakatau Band sbg pemenang Light Music Contest Indonesia tahun 1985 lalu tampil di Tokyo. Dwiki Dharmawan sukses meraih Best Keyboard Player didukung Pra Budi Dharma, Donny Suhendra dan Budhy Haryono. Setahun kemudian giliran Emerald Band tampil di Jepang untuk meraih dua penghargaan, yakni Best Keyboard Player untuk Iwang Noorsaid serta Inang Noorsaid sbg Best Drummer, keduanya alumni band keluarga The Big Kids. Periode Light Music Contest Indonesia era 1986 memang seru, melibatkan Spirit Band sbg juara kedua, disusul Kahitna dgn hadiah hiburan Yovie Widianto sbg Best Keyboard Player. Selanjutnya terjadi perubahan nama festival menjadi Band Explosion sejak 1987 serta memunculkan band Indonesia 6 yg dimotori pemain keyboard, Yani Danuwijaya. Lalu bagaimana kaitan semuanya dgn Casiopea?
Selama Light Music Contest vakum sejak 1971, pihak Yamaha cabang Tokyo menampung minat pemusik lokal amatiran dalam kontes EastWest yg dimulai pada 1976 berlokasi di Nakano Sunplaza. Issei Noro baru masuk kuliah dan gabung dalam band rock Fancy House, lalu mengajak Tetsuo Sakurai untuk partisipasi. Nama Casiopea lahir sbg syarat pendaftaran berikut Hidehiko Koike dan Tohru Suzuki sbg musisi tamu. Karena serba mendadak berikut gaya musik masih rancu antara rock dgn jazz, mereka gagal tapi Issei Noro menyabet gitaris terbaik. Pada EastWest’77 lebih siap bersama anggota tetap yakni Takashi Sasaki dan Minoru Mukaiya. Issei juga membawa lagu yg ditulisnya saat SMA, Midnight Rendezvous. Casiopea sukses meraih band terbaik, Issei kembali mendapat gitar produk terbaru. Akibatnya Casiopea dilarang ikut EastWest’78 namun diundang sbg tamu khusus. Mereka mulai sibuk manggung, bisa mencapai 18 pertunjukan di Tokyo dalam sebulan. Casiopea selalu membawa karya orisinil dalam teknik yg trend yakni jazz-rock. Akhirnya Casiopea tampil di acara TV bergengsi Poppin Time, serta diundang di kafe musik Roppongi Pit Inn. Pintu rekaman terbuka saat mereka telah terkenal dan mapan, berikut hubungan baik dgn pihak Yamaha. Casiopea siap menjajah pasar Jepang hingga telinga Indonesia (nDy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s