Kazu Matsui – Pendekar Suling Bambu Shakuhachi

Kazu Matsui is a famous flute player in the contemporary music, also a master of the Shakuhachi or Japanese traditional bamboo flute. I first heard the Shakuhachi played by Kazu Matsui on the 1978 album of Yutaka’s Love Light. He started his “Kazu Matsui Project” in 1981 and released 7 albums. Beside the Project, he built up a career by playing shakuhachi on several movie scores such as Jumanji, Legends of the Fall, Empire of the Sun, Another 48 Hours, etc. Kazu has produced more than 60 albums with many artists including Robben Ford, Larry Carlton, Lee Ritenour, Steve Lukather, Akira Jimbo, Ravi Shankar, Kenny Loggins, Ry Cooder, Joni Mitchell, Patti Austin, Chaka Khan, Philip Bailey, James Honer, and so on, also producing recordings for his wife, pianist Keiko Matsui. His 80s output is CLASSIC, and even the AOR Pop efforts on these albums were to my liking. When not working in the studio, Kazu teaches Educational Theories to give him spiritual motivation in the Toyoeiwa University, Tokyo. (nDy)
Kazu Matsui, peniup suling bambu tradisional atau Shakuhachi. Musiknya kukenal saat menyimak album Yutaka, seniman Koto alias harpa khas Jepang awal 80an. Kazu lahir dari keluarga penerbit buku, sejak kecil sudah khatam literatur klasik antara lain Ryunosuke Akutagawa yg terkenal dgn Rashomon, hingga karya Laura Ingalls Wilder seperti Little House on the Prairie lalu jadi serial TV. Membaca karya J.R Tolkien ditemani musik Pink Floyd menjadi ritual favoritnya. Maka saat usia belasan ia mulai berkelana, pernah ke India lalu nyetir mobil selama dua tahun lintas benua menuju London. Kazu lulusan sarjana filsafat dari Universitas Keio, melanjutkan master Ethnic of Arts di kampus bergengsi UCLA. Ia memperkenalkan Shakuhachi secara akademis di kampus, maupun buat ngamen bareng musisi West Coast yg pamor di akhir 70an atau Adult Oriented Rock. Dibentuklah wadah Kazu Matsui Project yg melibatkan rekan seperti Robben Ford, Larry Carlton, Lee Ritenour, Steve Lukather, Akira Jimbo, Ravi Shankar, Kenny Loggins, Ry Cooder, Joni Mitchell, Patti Austin, Chaka Khan, Philip Bailey, dst serta menghasilkan 7 album. Kazu sekaligus pemodal rekaman solo bagi para musisi tersebut. Juga membidani album pianis muda Jepang yg dapat beasiswa musik ke Los Angeles, Keiko yg kemudian jadi istrinya.
Lewat dua lagu yg pernah beken di Bandung era 85an, kutampilkan dua vokalis keren tapi kurang pamor. The Music Inside You oleh Phillip Ingram, ia penganut Saksi Jehovah seperti halnya Gino Vannelli, mereka membatasi diri sehingga Phillip kalah populer ketimbang James saudaranya. Sebagai ilustrasi video kutampilkan nuansa futuristic sekaligus ethnic dalam dunia avatar atau cosplay, mewakili selera Kazu. Sedangkan The Direction You Take awalnya dilantunkan Jennifer Warnes, biduan favoritku pada lagu When The Winter’s Gone bareng David Benoit. Kali ini kuhadirkan versi konser langka yg dinyanyikan Carl Anderson, pemenang Holland Casino Scheveningen Muziek Festival di tahun 1992 dgn mengalahkan Ruth Sahanaya. Kini Kaizu lebih sibuk mengajar di Toyo Eiwa Jogakuin dan menulis buku untuk anak pra sekolah. Ia membagi kebahagiaan masa kecilnya, teladan lewat pergaulan luas dan optimis. Diilhami oleh bacaan dan ditemani Shakuhachi lalu berkarya lewat Jazz, Kazu mewakili figur lokal dalam tindakan global, meski gak dikenal di Indonesia. Ia sudah selesai dgn dirinya sendiri, the direction you take, untuk menebar bahagia dan positif secara universal, the music inside you. (nDy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s