Quando Quando Quando とき Pat Boone

Perkara mimpi bukan hal penting buatku, selain tanda kualitas tidur kurang lelap. Namun jika mimpi yg sama hadir terus, mungkin sejenis pesan. Maka kujapri Aminah via WA, sahabat saat SD di Usaba. “Aku ketemu Handoko lagi, kenapa ya?”. Doi menjawab lama, “Doakan saja En, dia memang dekat denganmu. Semoga arwahnya lebih tenang”. Aku kenal Handoko di tahun 1976, setelah bokap izinkan keluarganya menempati pondok di belakang rumah. Pak Sujudi, nama bapaknya Handoko, sering mengajariku dalang sambil cerita para tokoh wayang. Ibuku senang, maka beliau bawa Handoko ke Usaba untuk daftar sekolah. Setiap pagi kami nunggu traktor pastoran lewat, kejar lalu loncat ke gerobak belakang sampai tiba di sekolah. Pulangnya jalan kaki ke rumah di depan kuburan Cina, sekarang jadi kantor Bupati Ketapang. Sorenya kami tenis di lapangan dekat SMP 1, atau sepak bola dgn anak2 Madura tukang arit rumput. Mereka pula menuntunku cara naik kerbau dgn tenang lalu keliling kebun. Handoko sering nimbrung jika teman2ku ke rumah, juga ikut foto bareng di ulang tahunku ke 13. Saat itu aku lagi demen lagu2 latin seperti Volare, Quando Quando, Oye Como Va, dst. Rupanya menjadi satu2nya dokumentasi kami. Lalu aku pindah ke Pontianak, hubungan terputus. Kudengar semua warga Ketapang era 90an kenal Handoko yg terlantar hingga meninggal. Dia tetap sahabatku. Foto kita kusimpan di blog PosMusicA, berikut video duet suaraku khusus buatmu. (nDy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s