Baby Stay At Home

baby.homeVideo keluarga bersama bayi atau anak, semakin relevan dalam situasi Stay at Home. Peran gender entah berupa wanita karir, ibu rumah tangga maupun orang tua tunggal, jadi heboh saat mereka harus tetap di rumah. Banyak cerita unik yg belum pernah viral sebelumnya, misalnya kaum ibu jadi stress sbg guru dadakan di rumah. Sebaliknya banyak anak menangis rindu ibu guru setelah diajari orang tua yg lebih galak selama karantina. Padahal belajar di rumah hal biasa bagi generasi 70an serta kurikulum lebih bersahabat. Jaman memang berubah dan fenomena covid 19 berdampak revolusi. Aku pernah cerita pada istriku tentang peran perempuan konvensional dari buku The Good Earth atau Bumi Yang Subur, karya Pearl S Buck. Novel yg kubaca saat SD sambil menginap di butik Wisma Batik Indah, semua alumni IPB Bogor angkatan 80an pasti kenal toko buku depan tugu Kujang itu. Merupakan judul pertama dari trilogy “House Of Earth” yg meraih Pulitzer tahun 1932 kemudian Nobel Sastra pada 1938, tentang pola patriarki lewat persoalan agraria, intrik keluarga serta isu gender. Pearl S Buck sbg penulis Amerika melakukan riset puluhan tahun di pedesaan China, berjasa merekam karakter proletarian secara universal sekaligus biografi epic.

Menurut tokoh petani di Bumi Yang Subur, istri ideal harus memenuhi tiga kriteria. Pertama, fisik kaki kuat dan besar agar berguna di sawah. Selanjutnya punya pinggul lebar sbg pemberi banyak keturunan. Serta dada montok untuk menyusui anak2nya. Gak perlu paras menawan apalagi otak cemerlang. Saat status keluarga meningkat menjadi pedagang yg lebih berduit atau pejabat sbg penguasa, standard perempuan turut berubah. Yakni secara fisik berkaki kecil juga bersolek, bisa baca tulis minimal nyanyi merayu. Celakanya kriteria tsb gak mungkin di upgrade istrinya, maka dicarilah di rumah plesiran sambil ketemu kolega terpandang, atau ngobrol bisnis. Menurutku telah mempengaruhi Pramoedya Ananta Toer untuk menulis tetralogy awal Bumi Manusia. Berupa standard perempuan Nyai pada keluarga agraris yg masih berkutat pada peran di sumur, dapur, dan di kasur. Kedua literasi yg sebetulnya mewakili tiga sosok dan peran perempuan di dalam satu rumah. Secara kronologis, Pearl menulis istri sbg pembantu rumah juga alat biologis. Selanjutnya Pram menjadikan selir setara istri sbg pengendali dan perencana masa depan. Maka hari gini jika masih ada nasehat nyari istri yg pintar masak, hemat juga rajin, setia dan gak bau ketek, agaknya dilandasi nilai sejalan dua buku klasik tsb. Jika kodrat istri sbg tulang rusuk sang suami yg hilang, mestinya sejajar sbg pasangan hidup, hingga satu2nya teman saat meninggal kelak. Ulasan inilah konsep videoku yg mayoritas bayi perempuan sbg calon ibu masa depan. Bukan hanya lucu2an lewat debat sengit Lily hingga bayi menyelam secara quality time di rumah. Mereka melampaui kriteria gender menurut versi kedua karya sastra tsb. (nDy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s