Dampak Dan Prospek Pasca Pandemik Covid 19

Picture1Lazimnya di awal Januari, aku harus kembali ke tempat tugas di Pontianak. Dengan janji saat liburan Imlek ngumpul lagi seperti biasa. Tapi mendadak aku ke Menado, berselisih seminggu dgn istriku di Bangkok. Maka mudik Februari kulewati tapi berasa wajar. Toh awal Maret ada pertemuan di Kementerian, sembari melunasi satu unit apartemen lagi. Tanpa ada yg mengira akan terjadi perubahan horor. Kini tahun 2020 memasuki bulan kelima, aku baru ketemu istriku sekali, serasa pisah seabad tanpa daya. Sejak WHO telah menetapkan COVID-19 sbg pandemik dunia, berdampak masif pula ke Indonesia. Selain krisis pada semua sektor pekerjaan dan ekonomi, juga merubah tatanan prilaku. Karena virus mengancam perkara dasar yakni kesehatan dan keamanan, maka prioritas kepada stok pangan juga obat. Berikut pembatasan social distancing dan akses publik, prilaku menyesuaikan cara take away juga daring atau sistim online dgn jasa kurir. Akibatnya dalam dua bulan dapat tergambar pergeseran prioritas skala primer. Bisnis makanan dan farmasi melonjak, berikut suplemen yg mungkin selama ini remeh seperti madu hingga vitacimin. Bagi masyarakat umum yg cenderung pegang tunai selama di rumah, bisnis gadai jadi pilihan. Di lain pihak, krisis menerpa sektor sekunder seperti bisnis jasa dan hiburan konvensional. Sejak dilarang ajang nikahan, ngopi bareng, ke bioskop, main bola bahkan status jam malam, maka aktifitas berpindah ke rumah secara mandiri.

Slogan Work From Home melandasi cara hidup semakin integrasi dgn teknologi digital berikut sakaw pulsa. Karena masih belum jelas kapan pandemik ini berakhir, dipastikan trend ini bersifat irreversible atau tidak akan berputar kembali ke gaya awal. Anjuran Stay at Home menjadi kewajaran baru, “New Normal”, tatanan gaya hidup mendatang. Beberapa bulan lalu, promosi Zoom masih dicibir, mandeg seperti aplikasi Smule. Orang lebih suka interaksi nyata, pertemuan di kantor sambil menyerap anggaran. Ngapain bikin rapat virtual? Tapi kini tercatat harta Eric Yuan melesat bak meteor. Situasi krisis sejatinya bukan peluang bagi prospek apapun. Meski pepatah bilang, peluang hadir di balik krisis. Sebetulnya lebih bersifat adaptasi bertahan, survival of the fittest. Muncul gerakan “Cara bernafas untuk meningkatkan imunitas melawan virus” secara berbayar. Undangan zoom tele-conference, online schoolling, go-food, virtual wallet, maraknya beragam omni-channel pada kanal youtube. Peradaban sedang berubah, sambil belajar lagi cuci tangan secara benar. Ranah virtual tapi bukan perkara ghoib, menjadi rebutan industri penyedia jasa internet (ISP). Agaknya pelaku property malah terimbas negatif, justru lebih cerah peluang menjadi youtubers. Maka akupun perlu putar haluan, mungkin ada yg minat membeli apartemenku di lokasi Alam Sutera Serpong? (nDy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s