Willy Derby – Hallo Bandoeng

a“Hallo Bandoeng” is a song by the Dutch singer, Willy Derby with Otto Dobrindt & zijn Orkestra released in 1929. The phrase Hallo Bandoeng was well known at that time, as the usual opening used by Radio Kootwijk in Holland. This song was popularized shortly after the first telephone connection between Europe and the Indonesia or East Indies had been established since 1929. Hallo Bandoeng is about an old lady in the Netherlands who speaks over the phone to her son in West Java, and hears the voice of her grandchild for the first time. Sadly when his son calls his mother again, he only hears a sob. The old lady already passed away after her grandson regards, “Tabe”. (nDy) 

Lagu “Hallo Bandoeng” diciptakan saat koneksi telepon pertama terjadi antara Belanda dgn Indonesia, atau Hindia Belanda. Pada musim dingin 7 Januari 1927, Ratu Emma atau ibunya Wilhelmina, bersiap melakukan sejarah untuk bicara langsung kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda yg berada di seberang benua. Sungguh luar biasa, Ratu Belanda memilih Indonesia sbg tujuan perdana. Mungkin pula mewakili negara Eropah pertama yg telepon ke negara di Asia. Peresmian dibuka dgn salam legendaris, “Hallo Bandoeng, hier Den Haag”. Tersambung ke stasiun pemancar radio di Malabar, Bandung Selatan, lokasi bersejarah dunia telepon Indonesia. Namun referensi lain menulis tentang Prof. Komans dari Radio Kootwijk sukses ber-telepon percobaan dgn Walikota Bandung saat itu, Dr. De Groot bertempat di Radio Malabar. Info tambahan, komunikasi telepon awal antar benua terjadi pada 1927. Ketika suara WS Gifford, bos AT&T Corporation dari New York terhubung dgn sekretaris Kantor Pos, Sir Evelyn P Murray di Inggris.Picture4Penyanyi Willy Derby mengabadikan berupa lagu dgn tema yg dirubah menjadi fiksi. Tentang seorang nenek di Holland, rindu lalu telepon anaknya yg menikahi mojang dan menetap di Bandung. Terjadi kejutan ketika iapun bisa mendengar suara cucu yg belum pernah dilihatnya, betapa dahsyat capaian teknologi bernama telepon pada tahun 1929. Namun sayangnya percakapan berakhir dramatis akibat Oma gak kuat menanggung emosi. Ia terduduk, masih sambil memegang telpon, menangis lalu meninggal. Tepat setelah sang cucu kirim salam “Tabeh”, tradisi yg kini gak terdengar lagi. (nDy)

One comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s