Selangkah Ke Seberang, Ultah Istri, dan Corona

e4Generasi milenial punya istilah “move on”, serupa dgn kawula 80an yg meminjam judul lagu Fariz, “Selangkah ke Seberang”. Bermakna sama agar jangan statis, bergeraklah demi perubahan. Karya Fariz di usia 19 tahun sbg keputusan untuk total hidup di dunia musik yg penuh intrik. Padahal kisah awalnya jauh dari dongeng indah. Ia memainkan semua alat musik, pinjam duit buat sewa studio rekam. Keren tapi kere. Ngajak vokalis gak terkenal agar murah, Yanti Noor sebelum jadi istri Chrisye, dan Kuspuji Istiningdyah yg sudah bikin satu album tapi gak laku. Hasilnya? Gak ada satupun produser berminat, hancur dan tekor. “Lagumu aneh, gak bisa dijual,” kata mereka. Lalu ia menggarap musik film Sakura Dalam Pelukan yg dibintangi Liem Swie King dgn Eva Arnaz, dinyanyikan Grace Simon. Di luar dugaan lagu Sakura lebih terkenal ketimbang filmnya. Giliran para perekam lalu mencari Fariz, selanjutnya baca saja di Wiki.

Selangkah ke Seberang juga jadi perubahan bagi Istiningdyah, ia dilirik raja Lolypop lalu masuk kerajaan pop-cengeng. Lewat tembang Jangan Sakiti Hatinya terutama Nasibmu Dan Nasibku, jadilah ia ratu melankolis bernama Iis Sugianto dgn omset milyarder. Buah move on memang luar biasa. Aku yakin Fariz ngajak Iis nyanyi bukan cuma terkesan dgn belahan di dagunya saja, takdir memang harus dikejar. Move On kujadikan simbol untuk beberapa catatan pada 15 Maret kemarin. Untuk pertama kalinya, aku gak lupa dan kirim selamat ulang tahun buat istriku. Itupun karena ia sudah bilang di minggu lalu mo ikut kegiatanku lusa di Bali. Isu kedua, virus Corona. Gubernur telah merilis edaran resmi serta himbauan, “Boleh jak terbang, tapi jangan balek agik ke Kalbar”. Akupun batal Selangkah ke Seberang untuk sekalian memeluk istriku. Lalu dari grup WA ada pesan masuk dari Kepala Dinas, “Pak Endy gak ke Bali dan Jakarta ya, SPT gak bakal diterima Gub”. Nuhun teteh, memang lagi status lock down. Kalbar kuat dan harus move on, kelarin dulu video ini agar segera aplod. Selain kudu sinkronisasi bahan klip lama Iis yg langka, juga kutaburi gaya retro berikut efek mencekam akibat epidemik virus. Tapi kok terasa semakin familiar dgn paras Iis Sugianto. Astaga, mirip wajah bu Kadisku. Punten deui teteh. (nDy)

2 comments

    • dalam suasana riuh berikut teror dari sok para pakar di berbagai medsos, maka akal dan mental harus tetap tenang dan ceria sekaligus tetap produktif. termasuk menyenangkan hati para pihak lainnya ;o)

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s