Legenda Lemukutan (Putri Lay Muk Tan)

a1.Dari literatur sastra Sambas, menulis pada periode awal kerajaan Nek Riuh di sekitar abad 12, telah terlibat aktifitas dgn para pelaut dari Kerajaan Tiongkok. Mencakup jalur niaga pedagang Champa atau Kamboja menuju Semarang dan Demak. Mereka bahkan menetap di kawasan Jawai hingga Tanjung Datuk serta Entikong. Muncul pemukiman marga Hui berikut syiar, melebur sbg marga Hanafi. Sebagian rombongan lain meniti jalur “ekspedisi emas” dan bergabung di Monterado, tapi itu lain cerita. Konon seorang putri bangsawan Hakka era gubernur Nan King, menderita “Pot Lai Kho” atau penyakit sejenis lepra. Maka harus diasingkan pada sebuah pulau kosong tak bernama di pesisir Sambas, kini menjadi Bengkayang. Ekspedisi dipimpin pendekar kasim bernama Lay Muk Tan. Kelak terdapat silsilah yg mengaitkan dgn eksistensi Raja Tan Unggal sbg penguasa Sambas abad 15.

Berdasarkan percakapanku dgn tokoh X.F Asali, nama marga lazimnya berada di depan. Sehingga kecil hubungan antara Tan Unggal dgn Lay Muk Tan, mestinya bermarga “Lay”. Adapun nama Muk Tan bersifat feminim, dari jenis bunga sub tropis, Mooktan. Sehingga mitos Lay Muk Tan lebih cocok bagi nama putri bangsawan, bukan onomastik maskulin. Kemudian legenda putri Lay Mook Tan kujadikan konsep “underwater sculpture park”. Berupa diorama ekosistim terumbu karang buatan sekaligus rumpon dan potensi wisata bawah laut di Pulau Lemukutan. Adopsi dari seniman Jason De Caires di lokasi Cancún Underwater Museum, Meksiko. Beragam kegiatan kolaboratif diintegrasi lewat sumber APBD dan APBN sejak T.A 2012 berupa: (a) Transplantasi coral; (b) Sertifikasi selam oleh POSSI Kalbar; (c) Pemetaan lokasi dan sosialisasi; (d) Melibatkan media cetak, radio, TV, serta photographer bawah air; (e) Diskusi dgn tokoh budaya Kalbar, arsitek, seniman, dan model rekaan; (f) Publikasi berupa Pameran Photography Bawah Air Kalbar; (g) Evaluasi penetapan Kawasan Konservasi Kelautan Bengkayang berupa kelembagaan, bisnis plan, serta survey zonasi Taman Wisata Laut Daerah. Sayangnya saat replika legenda putri Lay Muk Tan akan ditenggelamkan, terjadi penolakan dari warga pulau Lemukutan yg saat itu masih sepi. Agaknya sosialisasi belum optimal meski saya sudah sering menginap sambil mengajak penduduk memulai jasa wisata. Tanpa pernah diduga malah berkembang isu, saya menenggelamkan patung bunda Maria. Promosi yg kurang bagus tapi berdampak positif, sejak saat itupun banyak tamu penasaran ke pulau dan menginap menghasilkan multiplier effect hingga kini. Setelah beberapa tahun cooling down, kini saya siap kembali bersama Perda RZWP-3-K dan RPZ Kalbar. Banyak potensi dan mutiara masih terbenam di kelautan Kalbar, menunggu dimanfaatkan bagi harkat serta kesejahteraan bersama. (dionisius endy)

2 comments

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s