Putroe Neng, Legenda Aceh

picture1Putroe Neng, perempuan “perkasa” dari legenda Aceh. Tidak hanya menundukkan para lelaki di medan perang, juga membinasakan 99 pria pada saat “malam pertama” mereka. Nian Nio Lian Khie, nama aslinya. Seorang komandan perang wanita dari Tiongkok dgn pangkat Jenderal, ditugaskan untuk menaklukan lalu menyatukan seluruh kerajaan yg berada di Pulau Sumatera. Sekitar tahun 1024 Nio mendirikan Kerajaan Seudu dgn ibu kota Panton Bie, atau Kanton Lee, kini menjadi Kabupaten Aceh Besar. Namun ia takluk dalam pertempuran melawan Sultan Meurah Johan, ulama dari Kerajaan Peurelak juga pendiri Kerajaan Darud Donya Aceh Darussalam. Alhasil Jenderal Nian Nio dijadikan permaisuri oleh Sultan Johan, berganti nama Putroe Neng sbg mualaf. Sultan Johan sbg suami pertama Putroe Neng, sekaligus menjadi lelaki perdana yg meninggal di malam pengantin. Jasad Sultan kaku membiru pasca melewati awal percintaan, tanpa diketahui alias bukan disengaja Putroe Neng. Kematian demi kematian suami terus terjadi, setelah malam pertama dgn Putroe Neng, termasuk tabib yg berniat mengobati. Kecantikan dan kekuasaan Putroe Neng sanggup memabukkan setiap lelaki untuk meminangnya, hingga tercipta mithos tragedi 99 lelaki yg menjadikan malam pertama sbg malam terakhirnya dalam legenda cinta khas Aceh. Akhirnya diketahui sebabnya, ada “senjata tersembunyi” berupa racun yg terletak pada organ intim Putroe Neng. Racun yg pernah ditanam oleh neneknya bernama Khie Nai, untuk mencegah terjadi pemerkosaan terhadap Nian Nio, cucunya pada masa perang. Sang permaisuri kembali menikah untuk ke-100 kalinya, dengan guru spiritual yg telah beberapa tahun “mempelajari” Putroe Neng. Bernama Syeikh Syiah Hudam, ia sanggup menarik “racun” dari organ istrinya. Artinya sukses pula  melewati malam pengantin dgn berbahagia dan seterusnya. Sayangnya pasangan ini tidak dikaruniai keturunan, hingga ajal dan dimakamkan berdekatan, khabarnya akan dijadikan situs wisata sejarah di Desa Blang Pulo, Lhokseumawe, Aceh.

Berlatar dari kisah rakyat, novelis Ayi Jufridar asal Lhokseumawe merilis Putroe Neng (Grasindo, 2011) setebal 400 halaman. Ia membuat riset dan kajian sebatas fakta untuk memperkuat wawasan literiter tanpa berpolemik. Bahwa kekalahan dalam peperangan di Kuta Lingke telah mengubah nasib maharani Tiongkok sbg penakluk sejumlah sultan di Pulau Ruja, menjadi tawanan lewat pernikahan politis berikut tumbal. Hingga ulama Syiah Hudam memahami rahasia dan keagungan cinta, lewat angka Asma Ketuhanan 99, berjaya mengakhiri “kutukan” dan menjadi suami sang legenda. Novel Putroe Neng juga mewakili refleksi literasi saat menjustifikasi ketangguhan armada perang dan keahlian maritim di sekitar abad 11 saat Tiongkok ber ekspansi ke Sumatera. Mungkin pasukan yg menyerang dari Dinasti Liao Barat, marga yg didirikan oleh bangsa Khitan (916 – 1125 Masehi), para penganut Budha dari Asia Tengah. Awal serangan dipimpin Laksamana Liang Khie yg menguasai kerajaan Indra Jaya, lalu mendirikan markas militer di daerah Kuta Lingke. Setelah Laksamana meninggal, ia mewariskan kekuasaan bagi Nian Nio Lian Khie, putrinya yg kelak dijuluki Putroe Neng Raja Seudo. Sekaligus rekonstruksi awal berupa wacana asimilasi dan khasanah budaya Aceh tradisional lewat artikulasi paling kuno serta universal, yakni martabat dan cinta. (nDy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s