Tom Jones, the Voice

Picture2
Sir Tom Jones, one of the most popular entertainers who has worked non-stop since early 60s. After more than 5 decades in music industry, his voice still thrilling the nation on reality show The Voice. But have you heard these fun facts about the legend before?
1. Tom was holed up in bed with tuberculosis at the age of 12. Struck down with the nasty illness, he was forced into bed rest and could do little more than read and listen to music. Tom later referred to the time as “the worst of his life” but ultimately it got the ball rolling to send him to stardom as Welsh crooner.
2. He worked at a glove factory before becoming famous. After being scouted in Wales at a social men’s club at the age of sixteen, he nearly gave up his love of singing and started working in a glove factory instead, and a short-lived construction job before he eventually got his break as a singer.
3. Tom Jones is not the singer’s real name, also his band-mates. His manager took on a new name, Tom Jones, who was picked to capitalise on a film of the same name that was a hit at the time. Then his group “Tom Jones & the Squires” were missing the regular keyboard player for the session. Future AC/DC drummer Chris Slade introduced his mate as “the unknown Reginald Dwight” for one-day recording session. This keyboard player later to adopt the stage name as Elton John.
4. “It’s Not Unusual” becomes Jones’ first signature song. The song was written by Les Reed & Gordon Mills as a demo for Sandie Shaw. But firstly recorded by a then-unknown Tom Jones for his second single, “It’s Not Unusual/ To Wait for Love (Is To Waste Your Life Away)” released on 22 Jan 1965. James Patrick Page, aka Jimmy Page has been cited as a guitar player, also he does list “the session” in his online discography. This song becomes the theme for his late 60s TV musical variety series.
5. His first single didn’t even chart. Tom suffered when his first single, Chills & Fever, failed into the chart. He made up for it though with his second release, It’s Not Unusual, which catapulted him to the stardom we are now used to him having. The BBC initially refused to play the song because of Jones’s sexy image.
6. He more than lived up to his ladies’ man reputation. Tom has bragged that at the height of his heyday, he sleep with up to 250 women a year while on tour. His wife Linda, whom he was with from the age of 16 to her death, knew of some of the infidelity. As well as the one son he has with Linda, he is known to have had at least one other child, though reportedly has never met him.
Ikon 60an bersuara geledek yg masih eksis hingga kini lewat reality TV show, The Voice. Lahir dari keluarga pekerja tambang di Wales, ia bertekad berhenti miskin agar hidup lebih terhormat. Lingkungan buruk dan wabah TBC memaksa Tom sejak kecil sakit2an. Sering berkurung di kamar sambil mendengar musik, kelak merubah nasib. Saat penulis lagu Les Reed dan Gordon Mills bikin demo untuk artis Sandie Shaw, Tom Jones diajak mengisi suara rekaman. Yang terjadi malah mereka mendukung It’s Not Unusual sbg singel Tom. Pemusik studio Chris Slade mengajak rekannya, Reginald Dwight pemain organ, juga gitaris James Patrick Page. Selanjutnya sejarah, It’s Not Unusual identik Tom Jones hingga dianugerahi gelar Sir dari Kerajaan Inggris. Sedangkan Chris Slade jadi drummer rock AC/DC, Reginal berganti nama Elton John. Sang gitaris membentuk band paling berisik sedunia, Led Zeppelin. Adapun bagiku, Tom Jones mewakili kenangan tentang kakek yg kupanggil “engkong”. Lim Giok Kie nama almarhum, asli kelahiran Tiongkok. Di usia belasan berlayar sbg penumpang gelap ke Pulau Bangka, diasuh orang tua angkat pedagang ikan antar pulau, sempat tinggal di Padang. Lalu nyasar sampai ke Bogor untuk jualan ikan asin, ketemu jodoh akhirnya menetap. Jangan ditanya kapan, jawabnya selalu, “Pokoknya, sebelum Soekarno jadi presiden”.ngkong
Setelah punya anak dua belas, ibuku urutan ketujuh, namanya jadi Halim Ratna Boedi. Sejak lahir aku selalu bareng engkong, radio transistor kesayangan seolah jadi milikku. Belasan tahun kemudian, aku kembali serumah dgn engkong saban libur kuliah dari Bandung. Di tahun 80an beliau masih necis, berani kelayapan ke luar negeri sendirian. Juga tak pernah berubah, musik selalu mengalun. Jika memutar Tom Jones atau Boney M, biasanya engkong ikut siul sambil goyang. “Gue dua kali nonton si Tom Jones. Tapi paling heboh konser di Texas, penonton2 cewek jadi edan lepasin celana dalam trus dilempar ke panggung!”. Dari engkong pula aku paham kisah Green Green Grass of Home, kukira keindahan alam. Ternyata tentang napi di penjara yg rindu kampung halaman. Topik paling bikin doi penasaran, Tom Jones semestinya keturunan negro. “Liatin aja kulitnya gelap, rambut keriting, trus gila perempuan. Gak bakalan berani test DNA dah, lagian anak haramnya seabrek nunggu test darah juga”. Menjelang awal 90an, kondisi engkong menurun drastis sepulang dari Vietnam. Beliau selalu menolak ke rumah sakit, sulit makan obat. Harapan agar menemaniku saat wisuda gak kesampaian, keburu berpulang sebelum 1993. Di batu nisan tertulis tanggal lahir, 1 Januari 1900. Aku masih ingat alasan engkong milih angka cantik itu, “Pokoknya, biar gampang diingat”. Ah, You are so Unusual .. buat engkong terkasih, my hero. Nama dan kisahmu kini telah muncul di Google seperti Tom Jones, kalian tak akan punah. (nDy)

2 comments

  1. Menarik 👍✌

    Setiap perjalanan hidup patut ditulis sebagai kenangan atau pandangan kita, walaupun bersifat subjektif, terhadap sesuatu atau orang-orang yang kita kenal agar siapapun — anak, saudara, kerabat, ataupun teman — yang membaca dapat mengetahui perjalanan atau pengalaman hidup serta pandangan kita terhadap segala sesuatu yang pernah bersinggungan dalam hidup kita, salah satunya seperti orang-orang terdekat dengan kita dan musik yang melekat dalam kenangan dan diri seseorang.

    Saya mengenal musisi-musisi seperti Tom Jones, Matt Monroe, dlsb, dari alm. paman-pamanku yang mengoleksi begitu banyak PH yang tersusun rapi di rak dinding dalam kamarnya. Setiap berkunjung ke rumah besar — dulu, sampai tahun 70-an, keluarga-keluarga Tionghoa, masih hidup bersama dengan anak-cucunya serumah. Rumah besar model ini semacam rumah panjang versi mini. Kalau rumah panjang orang Dayak bisa berisi puluhan keluarga, rumah besar keluarga Tionghoa paling banter diisi dengan 4-5 keluarga, masih keturunan dari induk keluarga inti. Rumah besar ini tertanam dalam romantisme memoriku hingga kini. Salah satu tempat yang turut memberikan kontribusi terhadap pengetahuan dan minatku kepada musik.

    Untuk ukuran tahun 60-an hingga 70-an awal, TV,  PH dan pemutarnya, boleh disebut sebagai barang mewah karena hanya kalangan menengah ke atas yang memilikinya. Dari pamanku-lah, saya mengenal lagu-lagu seperti Moon River, Born Free, dlsb, yang sering dilantunkannya. Seperti umumnya anak kecil berusia 7-8 tahun, saya berdiri di pintu kamarnya, membeku dalam keterpesonaan menatap PH berjumlah ratusan yang berjajar rapi (dari Koes Plus yang tenar saat itu hingga The Beatles). Bagi pikiranku saat itu, jajaran PH itu ibarat mainan antik yang mewah. Dan, sesungguhnya, kemampuan untuk mengetahui dan menikmati musik — sebagai bagian dari budaya popular — boleh disebut sebagai sebuah pencapaian intelektual yang lebih maju, menuju arah penghalusan akal budi manusia.

    Liked by 1 person

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s