Mimpi Nica, Bangsawan Jazz

Picture12
She had a vision, that JAZZ would one day be
The music that’s of .. the future, you see ..
Nica’s Dream traces the story of a fascinating woman across her thirty-year reign as the Jazz Baroness, also explores a trans-formative era in 20th-century American culture. Raised in fairy-tale splendor, Kathleen Annie Pannonica Rothschild de Koenigswarter (known as “Nica”) piloted her own plane across the English Channel. Nica married a French baron, fought in the French Resistance, and had five children. Then she heard a recording of Thelonious Monk’s “Round Midnight.” Inspired by the liberating spirit of jazz, Nica left her family, moved to Manhattan, and began haunting the city’s nightclubs. The tabloids first splashed her name across the headlines after Charlie Parker died in her hotel suite. She retreated from the public eye, but through her ongoing ministrations to Monk and dozens of other musicians she became a legend. Score of jazz compositions have been written in her honor, including two of the most beloved classics of the genre: Horace Silver’s “Nica’s Dream” and Monk’s “Pannonica”. 

Freddie Mercury pernah mempopulerkan frase sakti, “easy come, easy go”. Terjemahan bebasnya, “gampang akrab, cepat lupa”, atau, “rejeki yg gampang didapat tanpa kerja keras, biasanya lekas pula lenyapnya”. Lebih ngeri lagi, “harta yg bukan berkat, kelak melahirkan masalah sehingga malah bangkrut”. Tapi ini bukan tentang motivasi meski Freddie sangat meyakini kalimatnya saat menggarap Bohemian Rhapsody dan terbukti. Begitupun saat awal aku mendengar Nica’s Dream puluhan tahun lalu, jenis nada dan lagu tentang apa sih? Gak bisa sekali disimak dan gak langsung akrab tapi anehnya gak bisa lagi dilupakan. Berbeda dgn lagu manis yg langsung akrab lalu cepat pula hilang, karena ada faktor pembeda antara kualitas dan kuantitas. Bohemian Rhapsody, maupun Nica’s Dream telah mewakili jenis karya yg meracik beragam nada, beat, skill, emosi dan harapan sbg kesatuan, tanpa peduli hasilnya hanya akan dinikmati 3 orang saja. Adapun jenis produk “easy come, easy go” cukup dgn 3 jurus dalam proses 3 menit tapi sanggup membius 3 juta kuping instan kaum alay. Waktu yg kelak membuktikan, karya yg sanggup bertahan lebih dari 3 bulan hingga 3 dekade. Seperti proses Bohemian Rhapsody yg awalnya ditentang oleh ketiga rekan Freddie, produser, lalu pihak radio yg menolak menyiarkan karena durasi terlalu panjang dgn lirik aneh. Begitulah sensasi dan pengalamanku terhadap Nica’s Dream yg telah melekat. Seperti nasib Jazz umumnya yg gak pernah meledak, namun terus eksist mengarungi satu abad lebih menuju esok. Juga alasan kenapa aku lebih memilih nulis dan bikin “video aneh” walau resiko gak meledak, karena populer bukan syarat kualitas meraih keabadian. Be who you are ..Jazz BaronBeginilah peragaan salah satu ekskul wajib bagi anak2 SMA Numata di Hiroshima, Jepang. Ketika libur sekolah, mereka justru menggelar konser serta tour antar kota. Selain demi pengalaman dan reputasi, juga nyari donasi dan relasi dari pihak sponsor. Demi bekal untuk pengalaman kerja kelak, juga banyak perusahaan yg minat ngasi beasiswa. Meninjau dari pilihan komposisi Nica’s Dream, jelas tampak keseriusan dan bakat secara individu maupun kolektif. Gak sembarang kuping bisa mencerna apalagi menikmati karya Horace Silver tentang tokoh Nica, maupun versi vokal karya diva Dee Dee Brigdewater. Video dan tulisan inipun mungkin boleh menjelaskan, sekolah sbg ajang bermain berbasis minat. Bukan hafalan karena elang bukan penyelam. (nDy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s