Gosong Niger Dan Isu Maritim Kalbar

gos1Topik ini merupakan ringkasan terhadap dua artikel pribadi tentang Gosong Niger. Juga pembetulan singkatan PP pada judul “Gosong Niger dan Wacana Kebijakan PP 78/ 2005”, seharusnya tertulis Perpres untuk akronim Peraturan Presiden. Secara kronologis, awal penulisan dibuat sebagai telaahan staf pasca kuliah maritim di Wollongong. Kemudian menjadi draft usulan kegiatan dari Bappeda Prov. Kalbar setelah hasil survey penulis di kawasan Gosong Niger bersama Dinas Perhubungan Kalbar tahun 2006, terkait materi sosialisasi Perpres Nomor 78 Tahun 2005 tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar, bertempat di Hotel Bidakara Jakarta. Hasilnya berupa pencerahan, bahwa Gosong Niger bukan pulau dan Prov Kalbar tidak memiliki pulau kecil terluar sesuai lampiran Perpres dimaksud. Selanjutnya dirangkum untuk publikasi tentang Gosong Niger, pernah dimuat di harian Pontianak Post, juga disimpan pada blog pribadi sebagai arsip :  http://endyonisius.blogspot.co.id/2010/08/gosong-niger-dan-wacana-kebijakan-pp-78.html

http://endyonisius.blogspot.co.id/2010/08/gosong-niger-dan-wacana-kebijakan-pp-78_16.htmlgos2Dalam hubungan masyarakat global, perjanjian internasional memainkan peran penting dalam mengatur saling keterkaitan antar bernegara. Berupa landasan kerjasama, wadah kesepakatan, konteks kegiatan hingga penyelesaian masalah. Tidak ada satupun negara yang tidak memiliki ikatan dengan negara lain. Semua terlibat dalam tiap aturan dalam perjanjian ekslusif (magna charta) maupun prosedur umum (soft law) berupa konvensi maupun norma tertentu. Kelengkapan yang dibutuhkan dalam membahas kelanjutan tentang Gosong Niger dalam konteks global, maupun atas dasar kepentingan berikut perhatian pemerintah daerah Kalimantan Barat sesuai kewenangan dan tupoksi. 

Isu Gosong Niger marak pada awal tahun 2006, ketika kapal survey Indonesia dituduh melanggar batas pada jarak sekitar 0,7 Mil Laut dari sisi Malaysia. Adapun Gosong Niger berlokasi di kawasan perbatasan laut antar negara, berjarak sekitar 5,5 Mil Laut dari Tanjung Datuk. Dengan perkiraan luasan mencapai 50 Km2, status fisik selalu terendam dalam 4 M di bawah permukaan laut surut (LTE) hingga 12 M saat pasang. Maka secara penampakan (geographical features), Gosong Niger tidak masuk dalam pengertian pulau (Regime of Island) menurut pasal 121 UNCLOS, juga bukanlah karang (reefs atau rocks). Artinya Gosong Niger tidak bisa menjadi Titik Dasar atau Pangkal Terluar sesuai mandat pasal 47 UNCLOS (archipelagic baselines joining the outermost points of the outermost islands and drying reefs), maka “dispute 2006” bukan mengenai deliniasi kedua negara.gosong1Pada kesepakatan batas Landas Kontinen Indonesia – Malaysia tanggal 27 Oktober 1969 dan diratifikasi melalui Keputusan Presiden No. 89 Tahun 1969, terdapat titik koordinat Timur (LCS 21-25) untuk posisi Gosong Niger yang membelah garis batas permukaan hingga dasar laut antar negara, di mana 2/ 3 blok bagian berada di teritorial Indonesia. Sehingga “ekspansi” Malaysia lebih terbaca dalam upaya penegasan penguasaan secara efektif (effectivites occupation) pada blok Gosong Niger, atau “Permatang Naga” versi mereka, berikut promosi wisata di kawasan Telok Melano, Sarawak. Adapun penduduk Dusun Tanjung Datuk, di Desa Temajuk, Kecamatan Paloh, kawasan Gosong Niger telah lama menjadikan sbg lokasi penangkapan ikan tradisional sekaligus memenuhi unsur penguasaan efektif berupa kehadiran penduduk lokal (continuous presence). Lokasi pantai Tanjung Datuk dapat dijadikan eksistensi Titik Dasar (base point) maupun Titik Landasan (reference point), kemudian tarik demarkasi terluar yang akan melewati atau memuat teritorial Gosong Niger berada di dalamnya. Pihak Indonesia telah membangun Mercusuar setinggi 43 M pada semenanjung Tanjung Datuk pada tahun 2006, disertai 3 pelampung suar di Gosong Niger. Namun tidak berperan sebagai Titik Dasar maupun marka negara (sovereignty), selain fungsi navigasi perairan bersifat lintas administratif. Sedangkan aktifitas Malaysia yang pernah mendirikan menara suar setinggi 14 M di dataran Tanjung Datuk pada tahun 2014 telah dihentikan secara mandiri.gos3Sebagai dua negara pantai yang berdampingan (adjacent states), antara Indonesia dan Malaysia memiliki klaim wilayah laut saling tumpang tindih (overlapping claim) pada kawasan Gosong Niger. Dengan metode penentuan batas badan laut (water column) berupa “garis sama jarak” (equidistance line) menurut rekomendasi pasal 15 UNCLOS, bisa tercapai ketegasan batas (territorial sea boundary) sebagai kepastian kedaulatan berikut kesepakatan aktivitas lintas batas. Misalnya terkait jalur migrasi satwa laut serta lintasan spesies dilindungi seperti penyu, berikut antisipasi ancaman berupa sampah laut (marine debris) yang terkumpul dari berbagai negara akibat musim arus dan angin. Faktor polusi laut diduga menjadi penyebab kematian beberapa penyu secara simultan sejak awal tahun 2018, maka perlu penanganan dan kelola maritim lintas negara atau bersifat multilateral. Indonesia telah memasukkan Desa Temajuk ke dalam Kawasan Strategis Nasional. Juga melalui Rencana Zonasi WP-3-K (Tata Ruang Laut) Prov. Kalbar menetapkan Gosong Niger berikut perairan Tanjung Datuk sebagai kawasan konservasi dan zona pemanfaatan lain, sekaligus KSNT dalam konteks Beranda Depan Negara. (dionisius endy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s