Pembangunan (Kelautan) Berbasis Pelestarian

shootSaat bertugas di Bappeda Prov. Kalbar, jabatan dan nomenklatur kerjaku rada paradoks: Kepala Seksi Energi, Pertambangan, dan Lingkungan Hidup. Menurut koordinasi satuan kerja, peranku sering kusebut sbg diplomat seni. Sebab Tupoksi Pertambangan bersifat eksplorasi dan eksploitatif, sedangkan aspek Lingkungan Hidup identik pro pelestarian atau konservasi. Kini di Dinas Kelautan lebih makro, membidangi urusan pada wilayah pesisir, kelautan dan pulau-pulau kecil. Mencakup optimasi pemberdayaan pemanfaatan umum di laut seperti lingkup budi daya, tangkap dan olah perikanan, perhubungan laut, mitigasi, edukasi hingga budaya masyarakat, dst. Juga harus diimbangi aspek pelestarian dan pemulihan SDKP melalui Konservasi Perairan yg mencakup urusan Jenis Ekosistim dan Habitatnya, serta Kawasan (teritorial). Bagaimana sinergi pembangunan kelautan versus pelestarian? 

Paradigma pembangunan (developing) versus pelestarian (blue ocean) bukan paradoks menurut konsep Pembangunan Berkelanjutan (sustainable development) utk dasawarsa terakhir. Misalnya prioritas makro dalam skala waktu, wajib menyisihkan sepertiga dari tahapan pasca panen, untuk proses pulih kembali. Begitupun dalam skala ruang (berupa sempadan), siklus musim, saat evaluasi, dst. Serta menurut perencanaan makro, dikenal strategi multi tasking sbg kombinasi ragam kegiatan pada satu pelaksanaan. Menurutku yg paling lentur serta prospek : Wisata. Apapun bisa produktif namun tetap lestari jika melibatkan wisata, terutama penguatan jasa kreatif. Misalnya dalam nuansa kesedihan saat ritual kematian, wisata tetap jalan untuk PAD. Maka dalam nomenklatur Maritim (tindak lanjut Kelautan), dikenal konsep eko-wisata-bahari. Yakni pembangunan jasa di wilayah laut meliputi rekayasa fisik, Iptek dan edukasi, pemberdayaan sosial ekonomi berikut penguatan kearifan lokal (bahari), serta ramah lingkungan.KKJIEkowisata, atau ekoturisme merupakan salah satu kegiatan pariwisata yg berwawasan lingkungan serta pemberdayaan masyarakat setempat. Atribut bahari telah memperkuat aspek lokus berikut budaya. Penguatan lebih bersifat cara pikir kolektif yg diterapkan sbg perilaku keseharian, berikut kreasi pendapatan (diversifikasi) seperti jasa pemandu (guide tour), rumah penginapan penduduk (guest house), kuliner, parkir, dll. Berlaku wacana: “Jika penduduk sejahtera, merekalah penjaga (lingkungan) terdepan”. Kalbar memiliki sebaran potensi ekowisata bahari berikut ikon spesifik. Sambas melalui penyu masih berjuang mengganti pamor lama sbg konsumen telur penyu yg dilarang. Di Singkawang pastilah kuliner menu ikan, Bengkayang punya panorama pulau dan atraksi bawah laut. Meski sepanjang pesisir Kalbar tumbuh mangrove, namun reputasi Mempawah dan Kubu Raya lebih “advance”. Kemudian Kayong Utara hingga Ketapang lebih progresif sbg kabupaten berbasis industri maritim seperti perkapalan dan pengolahan hasil kelautan, tanpa meninggalkan potensi alam sbg katalisator pembangunan. (dionisius endy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s