FT Kelautan – Master of Maritim

1...Berawal dari program Marine and Coastal Resources Management (MCRM) yg telah dilaksanakan oleh Bappeda Prov Kalbar. Salah satu kegiatan penguatan SDM melalui beasiswa, untuk penerapan Integrated Coastal Zone Management. Setelah melewati test juga wawancara, aku lolos bersama 3 rekan dari DKP Kalbar. Bergabung dgn sekitar 40an kandidat dari 12 provinsi, di Jakarta. Masuk karantina selama 3 bulan untuk pemantapan bahasa Inggris, juga penentuan lokasi kuliah. Aku lolos IELTS sbg syarat langsung menuju Wollongong bareng 15 rekan. Kampus yg telah merubah cara pikirku secara Arsitektural menjadi bajak laut. Menurut DIKTI saat akreditasi ijazah, aku dan beberapa alumni bisa mencantumkan gelar sesuai lembaga asing. Karena belum ada gelar serupa atau strata pendidikan yg sama di Indonesia. Maka resmi namaku semakin panjang dgn atribut Insinyur, ditambah Master of Maritim Policy, disingkat MMP. 

Dampak awal dari gelar MMP, aku dapat promosi untuk bertugas di Dinas Kelautan. Meski timbul pertanyaan konyol seperti Dayak kok ngurus kelautan? Aku ingat nasihat Profesor Martin Tsamenyi setelah tahu bahwa aku satu2nya siswa dgn latar belakang tehnik, alias bukan perikanan seperti lainnya. Kami sering dialog pribadi, membahas empat aspek penting ICZM. Yakni (1)  Perencanaan dan Dokumen Sumber Daya Kelautan (Coastal Marine Resources Planning); (2) Pengelolaan Informasi Spasial Kelautan (Spatial Data & Information Management); (3) Regulasi Kelautan dan Penerapan (Legislative Review & Law Enforcement); (4) Pengelolaan Rinci Sumber Daya dan Masyarakat Kelautan (Small Scale Natural Resources Management Schemes). “Anda fokus salah satu aspek ICZM tadi, seperti poin 2 perlu dasar teknik seperti Arsitek. Lupakan hal remeh lainnya”, pesan beliau. Konsep ICZM kemudian diadopsi UU No 27 Tahun 2007 tentang Perencanaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil. Diterapkan melalui Dokumen Hirarkis berupa pembuatan Rencana Strategis WP-3-K, Rencana Zonasi WP-3-K atau Tata Ruang Kelautan, Rencana Pengelolaan WP-3-K, serta Rencana Aksi WP-3-K, sbg tupoksi kerja saat ini.1.Dampak berikutnya, aku berhenti ngajar Arsitektur di Polnep Pontianak. Kemudian ngobrol dgn pk Johnny MTS yg bergelar Doktor Kelautan tentang peluang jurusan baru di Untan. Setelah proses beberapa bulan, aku terima undangan sbg pengajar di Fakultas Tehnik Jurusan Kelautan, hingga sekarang. Pak Johnny sbg Ketua Jurusan selalu pesan, supaya aku sukses “meracun” mahasiswa baru untuk mencintai kelautan luar dalam. Tentu gak ada dalam silabus maupun kurikulum resmi. Maka aku berlaku sbg mantan penyiar radio untuk membius pendengar siaranku. Misalnya setiap kuliah perdana yg telah berjalan tahun ke lima, aku mulai dgn tugas awal berupa : “Jelaskan makna dan contoh dari kata Kelautan, Maritim dan Bahari”. Hanya bicara Kelautan aku perlu satu jam untuk membahas aspek geografis, toponim, hingga sejarah dan peran kementerian kelautan. Juga posisi dan prospek kerja sbg lulusan kelautan yg langka namun relevan di bidang lain seperti wisata bahari, industri perkapalan, hingga kuliner hasil laut. Aku yakin bekal sederhana namun mendasar begini dapat jadi kebiasaan formal.1aSecara personal aku beruntung dibekali pola pikir yg kompleks. Arsitek dilandasi aspek teknis (science), juga kesenian (art). Kemudian maritim selalu menimbang prinsip legal (law), berikut kekuatan diplomasi (policy). Pengalaman bekerja di Bappeda berdasarkan konsep makro (wholistic), lalu bertugas di dinas teknis (lex specialist). Prof Martin juga telah mengingatkan, “Kamu bakal jadi manusia paling kesepian di Borneo. Tidak ada yg sabar mendengar serta meladeni pikiranmu”. Pesan yg menggoda sekaligus berpotensi kutukan. Maka aku perlu cermin dan pelampiasan konstruktif. Mengajar jadi solusi dan therapi. Mahasiswa selain anak didik juga partner diskusiku, bahkan guru. Aku belajar lewat respon siswa setelah aku bicara. Perlu interaksi aktual dan relevan versi mereka sebelum ngasi tugas. Apalagi saat berdiri depan kelas, seolah menatap dua anakku yg kini seusia mereka dan juga kuliah. Mereka pemilik masa depan, cermin diriku kelak. Semoga sukses menyertai kalian, lebih paham kelautan sbg generasi maritim, serta berjiwa bahari. Tentu gak lagi kesepian di Kalbar seperti saat ini. (dionisius endy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s