FILM MOON (2009) dan A Salty Dog

1...Film yg baik serta berkelas menurutku, adalah sesuai dgn harga tiket, kemudian dapat memberi sensasi dan ide baru setelah keluar dari bioskop. Mungkin beda dgn pendapat lain yg menganggap “nonton” hanya hiburan. “Sudah bayar kok malah mikir lagi”. OK, gak perlu dibahas. Anggap aku mewakili minoritas moviefreak yg biasa nonton 5 judul perminggu sejak tahun 80an. Lalu dari sekian karya layar lebar, Moon telah kupilih dalam 50 film paling berkesan versi pribadi dari segala genre. Sekaliber Ben Hur, The Sound of Music, Fargo, hingga The Enemy of the State. Ironisnya Moon gak kutonton di bioskop karena gak masuk Indonesia. Semoga tulisan ini dapat menjabarkan beberapa fakta dan impresi untuk menunjang selera. Berikut tagline yg menurutku mencekam: “250,000 miles from Home, the hardest thing to face .. is Yourself”.

SAM, Sang PENYENDIRI. KISAH operator tambang yg dikontrak 3 tahun oleh sindikasi Korea. Bertugas di Bulan, mengawasi eksplorasi Helium sbg energi alternatif. Sam harus meninggalkan istri yg hamil tua, sambil menitip nama Eva bagi si calon bayi. Kemudian menjalani rutinitas di stasiun sunyi, hanya ditemani robot bernama Gerty. Komunikasi ke Bumi lewat video streaming sebulan sekali, plus saat memantau kelahiran putrinya. Hingga kontrak kerja akan berakhir 2 minggu lagi, Sam bersiap pulang. Rindu memeluk Eva yg tentu berusia 3 tahun. Namun setelah beberapa kecelakaan dan halangan, Sam akhirnya dapat menghubungi Bumi lewat pemancar manual serta melihat Eva dalam sosok gadis remaja yg telah berusia 15 tahun.1.MOON, Tentang SENDIRIAN. Meski sepi publikasi, Moon telah memiliki fans khusus dalam kategori “Cult Movie”. Mewakili genre “paranoia thriller”, lewat adegan lambat serta kelam selayaknya “Noir”. Walau bertema luar angkasa, jangan harap adegan laga ala Transformer maupun Alien. Apalagi selama durasi 100 mnt hanya di dominasi peran tunggal alias satu aktor saja. Peluang langka bagi dua seniman berbakat yg namanya mungkin terdengar asing. Yakni sutradara Duncan Zowie Haywood Jones, putra David Bowie yg pernah bikin album rock legendaris “Space Oddity”. Duncan menggarap Moon secara indie, termasuk bayaran minim bagi Sam Rockwell, sahabatnya sesama British. Mereka fokus pada ego masing2 dan optimal menjiwai Moon. Padahal Duncan sempat beken lewat film “Source Code”, akting Sam menarik minatku di film “Seven Psychopat”. Kerja sama mereka walau hening, sanggup membongkar sisi tergelap juga paranoid tiap manusia normal : Kesepian, sendiri tanpa daya, nihil kreatifitas dan terpenjara.1..BULAN, Selalu SENDIRI. KONSENTRASI film semakin tinggi saat Sam akan kembali ke Bumi. Agak sulit dicerna bagi nalar dan emosi penonton awam, kecuali yg telah paham misalnya konversi Bumi berbeda dgn di Bulan. Secara filosofis lebih cocok bagi kaum Free-thinkers yg akrab dgn istilah Cloning, portal dimensi. Maupun idea tentang media “Avatar” sbg “fisik genetik” (misalnya Kulkas) yg akan disebut “hidup” (atau menyala) setelah dialiri listrik (nyawa). Namun kulkas, juga kucing, jelas berbeda dgn kualitas “hidup” manusia. Antara lain karena unsur Roh yg mengandung karunia kompleks seperti faktor emosi, memori, serta moral (terlepas dari paham Benar atau Salah). BTW siapa sih yg berhak menilai sosok Lucifer atau Judas Iskariot itu bermoral bejat atau mulia? Tapi peran Sam di film Moon bukan mewakili paham Gnostik, walau secara ide mewakili paham “Kebangkitan” (Ressurection) serta hidup berulang seperti proses Inkarnasi. Moon secara filosofis, seperti manusia tidak bisa bicara padahal gak bisu. Moon juga memaksa penonton agar emphaty pada Sam yg tetap manusiawi meski telah berwujud robot.1....A SALTY DOG (personal touch). Penjelasan gampang kenapa Sam bisa bicara dgn Eva yg telah berusia 15 thn? Karena (spoiler allert) ia telah “bangkit” lima kali secara kloning (5×3 tahun). Artinya “Sam asli” pada periode 3 tahun pertama sengaja dibuat meninggal di akhir tugas, lalu berikutnya dibangkitkan “duplikat Sam” (cloning). Secara bisnis tentu untung bagi perusahaan yg hanya bayar sekali kontrak tapi diperbudak selamanya. Ide yg mungkin dapat mewakili “kontrak hidup” bagi tiap manusia, termasuk saya, di alam fana ini. Manusia memang dibagi atas klasifikasi menurut label seperti atribut Suku, Agama, Ras, dst, sesuai tugas dan fungsi hidupnya. Nah topik “kebebasan tapi terikat” inilah yg mirip dgn konsep lagu Salty Dog. Kisah para pelaut dan kaum peziarah, pilgrims, dibalik nilai kebebasannya dan harus memilih. Oya thanks untuk bro Antonius Suaini yg telah menemaniku smule dalam A Salty Dog ini. (nDy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s