Moby Dick – In The Heart Of The Sea

Picture10ROMAN RAKSASA karya pertengahan abad 19 pada kejayaan “American Renaissance”. Buah pena yg gak pernah selesai kubaca akibat beberapa sebab. Pertama, Inggris kelas berat di luar kemampuanku. Rasanya butuh skor IELT minimal 85an. Bertutur penuh metafora penuh “psychedelic” guna membongkar kesumat terpendam para pelakunya. Plus deskripsi teknis tradisi memburu Paus, asing bagi pembaca awam yg berasal dari gunung. Kendala kedua, penulis tidak berupaya memudahkan pembaca agar nyaman mengerti. Untuk pembanding, lebih nyaman mencerna maksud Carl Sagan lewat novel Contact, atau Da Vinci’s Code yg nge-pop. Mungkin setara The Name of The Rose milik Umberto Eco . Lagipula novel Moby Dick yg setebal 500an halaman utk memuat 130an bab lalu dijuluki “Paus Sastra” inipun belum ada versi terjemahan Indonesia.Picture8PENULIS Herman Melville bukan sarjana serta tidak pernah ngaku penulis sastra. Ia pengamat dan pencatat ulung, ditunjang referensi dan observasi otodidak. Pernah ikut kapal pemburu Paus setahun lebih, sebelum menerbitkan magnum opusnya. Melville merujuk jurnal William Scoresby digabung kisah Nabi Yunus di perut Paus, romantisme ala Shakespeare, debat filosofis John Locke versus Immanuel Kant. Serta kajian ilmiah pada satu bab tentang “Cetology”, analisa prilaku ikan Paus yg ternyata “bisa dendam” walaupun bukan predator. Akhirnya saat proses paling sulit selama 14 bulan mengorek pengakuan para nelayan yg pernah trauma berhadapan dgn ikan Paus. Melville harus bikin perjanjian tertulis demi kerahasiaan sumbernya. Maka ia merubah semua nama bule jadi “aneh” seperti Ishmael, kapten Ahab, Starbucks, dst. 

LATAR BELAKANG RAKSASA Amerika saat berjaya di lautan, awal abad industri pra tambang minyak bumi. Lemak ikan Paus merupakan sumber energi utama, serta para lelaki sejati adalah pelaut. Secara detil dinarasikan oleh tokoh Ishmael, serta kesumat Kapten Ahab memburu musuh besarnya bergelar Moby Dick. Referensi menyebutkan, kapten Ahab mewakili tokoh nyata kapten George Pollack yg menolak wawancara Melville. Namun kapten Pollack mengijinkan kalimat terkenalnya boleh dimuat, “The lightning never struck in the same place twice”. Quotes ini juga dipakai Phill Collins untuk lagu “Thunder and Lightning” saat menceraikan istri. Fakta jika kapten Pollack tidak pernah menemukan Moby Dick lagi, malah kapalnya karam menabrak karang. Sedangkan kapten Ahab hilang bersama lenyapnya Moby Dick di misteri Pasifik. Picture9SINEMA RAKSASA “In the Heart of the Sea” digarap nama besar Ron Howard. Sayangnya gagal diimbangi jajaran aktor wahid. Aktor Chris Hemsworth malah mengganggu, mirip sosok Thor di laut. Suguhan grafis dgn spektrum luas amat natural, durasi tayang 2 jam jadi gak melelahkan. Menutupi kedodoran interpretasi novel Moby Dick yg butuh 100 bab untuk membangun konflik. Adapun puncak pertempuran di laut hanya 5 bab. Maka film ini semestinya berbeda dgn aksi Kingkong atau Godzilla. Spirit Moby Dick mewakili sifat tamak manusia versus rendah hati di hadapan alam. Termasuk penjabaran eksplisit bahwa manusia merupakan pemangsa sesama, saat para pelaut terpaksa makan mentah daging rekannya (kanibalism). Horor yg membuat Melville sulit interview terhadap para responden yg gangguan jiwa. Moby Dick boleh mewakili interaksi alam dgn manusia. Picture11RAKSASA TERAKHIR bernama LED ZEPPELIN. Empat pendekar yg menciptakan Moby Dick lewat persepsi lain, namun sama2 tentang Ego. Maka saat Bonzo sang drummer wafat di puncak kejayaan, Led Zeppelin langsung bubar tanpa syarat. Agaknya begitulah karakter sejati milik para Raksasa dunia, serta cara Legenda Raksasa dikisahkan. (nDy)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s