SD USABA Ketapang 1979/1980

untitled4USABA akronim dari “Usaha Baik”, yayasan sekolah swasta bersubsidi Katolik. Berlokasi di Kab. Ketapang, Kalimantan Barat. Masa kecilku di SD USABA Ktp dimulai sejak kelas 4, pindahan dari SD Melati Pontianak. Wali kelasnya pak FX Samino, rada gondrong mirip Tonny Koeswoyo. Aku lupa pernah duduk ama siapa, Muslimin apa Hartini? Di depanku Purnawati dgn rambut kepang dua mirip boneka. Kalo gak salah dia sebangku dgn Sari, anak tentara nan imut, sering kugelar mirip Rafika Duri. Kelasku menempati bangunan tersendiri di belakang dekat lapangan sepakbola, misah dari gedung induk. Naik kelas 5 masuk ke bangunan utama yg bertingkat dua, hingga kelas 6. Salah satu sahabat, Ganis, pindah ke SD negeri dan aku makin sering ke rumahnya di simpang lima Saunan.2.b - CopyAku sering menjelajahi kota Ketapang hingga off-road ke pelosok. Ngajak Talip, Anton dan Edyanto bersepeda ke rumah Amirudin di Kandang Kerbau, kini wilayah pelabuhan bernama Sukabangun. Atau keliaran hingga pantai Tajung Gelandang, kalo lapar tinggal cabut singkong di kebun orang, lalu panjat pohon kelapa. Saat malam sama2 menatap langit hamparan bintang, diselingi bintang jatuh. Kami diam menyimak suara ombak, beralas pasir hingga ketiduran. Ganis pernah kasi nama kelompok The Wanderers alias Para Petualang, ide dari judul lagu milik Dion & The Wanderers. Selain naik sepeda juga keranjingan badminton, main di asrama guru. Aku selalu kalah dari Arimanto yg udah tumbuh kumis, begitupun catur. Arimanto makin berkesan dewasa krn dia langganan koran Suara Karya dan rajin mengulas bidak Anatoly Karpov. Atau mungkin aku sering gagal fokus badminton akibat cewek hitam manis rambut kepang kuda sering melintas, entah anak kelas berapa. Kelak baru ngeh, rumah doi tepat di samping sekolahan.a3Kelas 6 paling seru, kejutan krn si hitam manis ekor kuda ternyata sekelas. Juga kenal Agung, anak Bupati yg baru menjabat. Wali kelasku Pak Soepardjo, sekaligus guru IPS. Aku pernah diusir beliau dari kelas gara2 ngotot siapa nama Perdana Menteri Thailand. Beliau sebut nama sesuai buku panduan soal, sementara aku baca dari koran Kompas langganan. Tapi guru yg sempat kukira benci diriku, ternyata malah kasi nilai tinggi di ijazah, 9 untuk IPS. Juga ada kenangan yg masih kusimpan selain rapor dan ijazah SD, berupa piagam Juara Menggambar. Hal bersejarah berupa masa lulus SD yg mengalami perpanjangan setengah tahun. Akibat perubahan kurikulum di era Menteri Daud Yusuf, dari akhir Desember menjadi lulusan di Juni 1979. Maka saat lanjut ke SMP USABA mulai di bulan Juli 1979, sbg Angkatan Pertama yg disebut Tahun Ajaran Akademis 1979/ 1980. Kemudian saat naik kelas 2 aku pindah sekolah lagi ke SMP Bruderan di Pontianak. Jodi juga hijrah ke SMP Bruderan tapi beda kelas, berlanjut hingga di SMA Sto Paulus.

Ide menggunakan materi Siaran Niaga TVRI untuk video alumni ini, agar relevan juga dramatis saat merekam jejak sesuai pengalaman 80an. Walau gak semua teman punya kenangan kuat, akibat TV masih langka di tiap rumah. Fakta yg bisa jadi bahan seru saat reuni. Tapi alasan paling utama, karena kurang bahan dokumentasi. Maklum, dunia narsis alias foto pribadi masih jauh. Beberapa tahun lalu aku mampir ke SD USABA yg sudah berubah dan ganti nama, hanya untuk mencari foto papan USABA atau bukti otentik lainnya. Tidak ada arsip sama sekali. Begitulah kondisi hidup umumnya di kota kecil, tapi aku bangga dan punya kesan paling mendalam. Pagi berangkat sekolah jalan kaki rame2 sepanjang 5 Km. Kadang berantem dulu waktu lewat asrama Hidayat, anak tangsi tau dong? Tapi sesuai tabiat anak SD, sore udah lupa lagi dan barengan nyari rumput untuk umpan kerbau. Lanjut main bola trus nyebur telanjang di parit. Jaman itu masih pake telpon engkol, belum ada nomor, harus minta sambungan ke operator. Si petugas sudah hapal dengar suaraku, pasti minta colokin ke rumah Anton. Karena cuma doi temanku yg pasang telpon. Tepat jam 7.30 malam, Kalimantan Barat masih masuk Waktu Indonesia Bagian Tengah, wajib duduk manis depan TV. Acara paling favorit, Mana Suka Siaran Niaga. Hingga jam 10 harus tidur, tanpa bokap tau aku pernah bolongin dinding kamar buat nonton serial The Six Million Dollar Man ;o)7.tMeski belum pernah hadir dalam beberapa kali reuni angkatan SD, inilah periode dan para sahabat paling hebat dalam hidupku. Belum kenal perbedaan agama, suku serta golongan. Aku pernah ikut belajar ngaji, bisa ngomel pake bahasa Madura. Nimbrung makan siang di rumah Anton atau Talip, nginep tanpa ijin di rumah Ganis. Menikmati disco Boney M yg diputar bokapnya Chiang Kho dgn speaker gede 12 inch menghadap ke jalanan. Suka2 tanpa beban. Ketika Arimanto dikeroyok, ibuku turun melabrak. Lalu aku sempat heran kenapa Handoko gak pernah sekolah tiap pagi? Eh besoknya dia ngajak ke Usaba. Rupanya langsung didaftar bokap, soalnya orang tua Handoko kerja di rumahku. Lantaran usia Handoko lebih tua, dia kayak bodyguard pribadi. Salah satu tugasnya mengawasi Aminah si hitam manis, atau nyari alamat Nuryabeta dan Lisda. Kemudian aku kabur ke rumah Jodi latihan Kung Fu niru Jacky Chen yg baru beken. Terima kasih untuk masa kecil, segenap sahabat, TVRI, serta alam yg begitu akrab menyatu. (nDy)

6 comments

  1. Mantap Endy, sedikit menyegarkan cerita masa kecil di kampung tercinta ketapang dengan Usaba dimana kita dididik menjadi kita saat ini…. Terima kasih Endy… Aku sendiri lupa duduk dengan siapa hehehe…. Sukses ya,,,,

    Liked by 2 people

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s