Don’t Stop ‘Til You Get Enough

UntitledQuincy Jones, who produced the album, encouraged Jackson to write his own songs, and the young singer quickly developed a talent for composition. Jackson wrote or co-wrote nine more #1 hits in his career, including “We Are The World.” Jackson and Jones first worked together on music for the 1978 film The Wiz, Jackson played the Scarecrow. Off The Wall was the first album Jones produced for him. This song also snagged Jacko his first Grammy for Best R&B Male Vocal performance. According to any sources from Japanese, they believe this song was launched from the Moon. Sounds make sense for the Moon-walk ;o) TRILOGI album fenomenal Off the Wall (1979), Thriller (1982), dan Bad (1987), bisa kuanggap contoh sempurna dari kolaborasi lintas generasi paling sukses. Quincy Jones mewakili era “Silent Generation” (Lucky Few), produk kelahiran sebelum tahun 50an. Disebut “silent” atau sunyi karena orang tua mereka pada umumnya “bikin anak” secara sembunyi krn perang, atau kondisi depresi. Juga “lucky few” karena bisa tumbuh dewasa setelah perang usai. Jones tumbuh sbg musisi Jazz berbekal trompet langka, kelak lebih terkenal sbg komposer, pencari bakat dan produser sukses. Michael Jackson kelahiran 58 sbg generasi Baby Boomers, terkenal dgn semboyan “banyak anak, banyak rejeki”. Para keluarga muda pasca perang memang digenjot bikin anak, termasuk di Indonesia hingga periode 80an. Periode yg dianggap revolusi analog menjadi digital. Selanjutnya generasi Millenial kelahiran 90an telah dibatasi program Keluarga Berencana, berikut peralihan global dari teknologi digital menjadi era WiFi (nirkabel). Salah satu alasan kenapa bahasa para orang tua sering gak nyambung dgn anak, akibat revolusi budaya dan perubahan yg semakin singkat tapi masif. Maka hukum alam bersabda, kejayaan Baby Boomers kini telah pudar alias pensiun. Penguasa dunia sekarang milik generasi 80 dan 90an, para fresh-graduaters dan inovator yg punya sebutan khas : KidsZamanNow”.

Dalam konteks dagang maupun budaya, tiga album kolaborasi Jones dgn Jackson begitu dahsyat dalam aspek apapun. Secara bisnis dan distribusi menjadi album terlaris dunia sepanjang masa. Apalagi soal musik, lirik, koreografi, video klip, busana, termasuk gosip dan intrik sbg bumbu promosi, begitu rapih dan detil direncanakan. Prestasi sbg gegar budaya Pop mutakhir. Tapi anehnya, Jacko malah memecat Jones setelah mereka di atap dunia. Salah satu alasan versi Jones, “Jacko menolak utk mewarisi musik Soul ke arah Hip Hop, lalu ia menendangku!”. Jacko hanya menjawab singkat, “Jones ketinggalan jaman, dia gak paham bisnis musik modern”. Dalam konteks musikal mereka mencapai kategori sepaham lahir bathin. Masalah keduanya pada visi dan sasaran yg berbeda, akibat beda generasi. Jacko menilai Jones amat berjasa dalam menjaganya keluar dari zona nyaman Jackson 5 untuk solo karir, tapi gak akan sanggup menatap 20 tahun ke depan. Jacko telah sukses membuat pondasi untuk musik dan pertunjukkan gayanya sendiri, lintas genre bahkan menghapus gender dan warna kulit. Artinya pula Jacko sbg jembatan lintas generasi. Ia sanggup menggali era Jones lewat musik Soul, mengadopsi dansa Elvis Presley hingga James Brown. Sekaligus menembus jaman Millenial seolah abadi. Jacko membuat musik sbg pekerjaan sambil bermain, pasar global tanpa suku, agama dan ras, mandiri, persis ciri KidsZamanNow. Jones dan generasi konvensional gak akan sanggup mengikuti Jacko, makanya ditinggal dan pensiun.1.Jacko di awal 80an bikin revolusi melalui musik plus keputusan visioner. Ia mengajak legenda Motown kemudian ditinggalkan, secara terhormat. Jacko sbg “New Kids Zaman Now” era 80an menolak terpaku hanya pada satu figur. Ia gak mau terikat atau patuh pada sebuah sistem baku. Maka setelah Jones, Jacko lanjut menggebrak kolaborasi dahsyat bareng musisi kaliber Eddie Van Halen hingga Slash, beragam tim koreografer level dunia, video dan film, termasuk kostum dan gimmick. Generasi KidsZaman Now memang bukan tipikal kompetitor, melainkan kolaborator. Bekerja adalah bermain, work smart not hard, fleksibel secara tim meskipun mandiri secara individu. Jika plesir mereka gak butuh calo tiket pesawat, bekal tunai dan minta diantar ke bandara, tapi lakukan sendiri atau kini via transaksi online. Begitupun saat mencari penginapan gak butuh mahal, toh hanya buat tidur krn lebih lama keliaran. Para KidsZamanNow gak silau status atau penghormatan, rada kurang ajar krn gak kenal hirarkis. Parameter mereka beorientasi hasil, setelah melalui proses fun dan transparant. Mereka memakai youtube sbg guru belajar atau arsip pribadi, bukan pamer karya orang lain di sosial media. Begitulah Jacko menendang Jones dgn alasan ketinggalan jaman, seolah melihat emak2 belok kanan padahal lampu sen ke kiri. Gak nyambung, seperti sulitnya aku promosi youtube untuk teman2 generasiku. Dianggap “disruption”, tukang ganggu, cari perhatian. Anehnya, aku merasa sulit mengajak siswaku untuk presentasi tugas kuliah melalui Blog dan Youtube. Mungkinkah diriku, mirip Jacko, salah periode lahir?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s